Pertumbuhan dan Pengurangan Kemiskinan dalam Pertanian di Indonesia

Oleh: Zira Brenda W | 10/296681/EK/17831

A. Gambaran Umum Sektor Pertanian di Indonesia

Sektor pertanian nampaknya masih menjadi primadona perekonomian di Indonesia, meskipun telah terjadi transformasi struktur ekonomi, dimana perekonomian negara lebih ditopang pada sektor industri dan jasa. Selain dibutuhkan sebagai penyedia pangan nasional, sektor pertanian juga menyerap sebagian besar tenaga kerja.             Hingga saat ini sebagian besar masyarakat masih menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dengan tingkat produktivitas dan pendapatan usaha yang relatif rendah, sehingga kemiskinan, pengangguran dan rawan pangan banyak terdapat di pedesaan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa upaya pengentasan kemiskinan, pengangguran, dan rawan pangan harus dilakukan dengan membangun pertanian dan pedesaan. Adalah merupakan tantangan ke depan untuk mencapai komitmen global pada tahun 2015 sebagaimana yang dicanangkan dalam Millenium Development Goals (MDG’s) melalui pembangunan pertanian dengan segala karakteristik dan sfesifikasi masalahnya yang tersebar merata hampir di seluruh wilayah pedesaan.

Seama 2008-2012, pertumbuhan PDB pertanian memperlihatkan kenaikan setiap tahunnya. Tabel  1 menunjukkan bagaimana resistensi sektor pertanian yang masih bisa tumbuh di tengah melemahnya permintaan global (barang ekspor) akibat krisis yang sedang melanda.

Namun jika dilihat pada Grafik 1, seberapa besar pangsa sektor pertanian sebagai penyumbang PDB di Indonesia, ternyata tidak begitu signifikan. Padahal peluang yang dihadapi Indonesia adalah keunggulan komparatif dalam bentuk kekayaan sumberdaya alam dan air, aneka ragam komoditas dan iklim yang mendukung. Pengembangan sektor pertanian dapat menjadi fundamen pembangunan nasional untuk meraih peluang- peluang lain yang lebih besar seperti ilmu pengetahuan dan pembangunan industri. Sangatlah beralasan jika pertanian dijadikan sektor andalan dalam pembangunan nasional.

Peluang lain yang dimiliki Indonesia adalah permintaan yang besar dalam negeri yakni jumlah penduduk sekitar 200 juta orang. Kebangkitan perekonomian  nasional akan memacu permintaan akan komoditas pertaniaan. Kebangkitan sektor riil di dalam negeri akan meningkatkan permintaan bahan baku hasil pertanian bagi agroindustri di dalam negeri.

B. Tantangan Sektor Pertanian

Indonesia menghadapi beberapa kelemahan internal antara lain sumberdaya kualitas manusia rendah, penguasaan ilmu dan pengetahuan yang masih kurang, kesuburan lahan pertanian yang semakin menurun, manajemen penggunaan air yang lemah, sistem kelembagaaan petani yang rapuh, sistem agribisnis belum kompak dan belum terintegrasi, modal pertanian sangat kurang dan kalau tersedia sangat mahal, industri pembenihan untuk berbagai komoditas belum berkembang, sistem pemasaran tidak menjamin insentif yang layak bagi petani, manajemen pembangunan pertanian antara pusat dan daerah belum terkoordinasi dan prioritas kebijakan nasional yang belum berpihak pada pertanian. Penyebab inefisiensi agribisnis adalah lahan usaha sempit, terlalu  banyak orang bekerja dalam jasa pemasaran sehingga biaya pemasaran tinggi, biaya modal yang dihadapi petani tinggi, manajemen petani berdasarkan pengalaman sendiri yang tidak berkembang, penggunaan benih yang tidak produktif, sikap nasionalisme bagi penyelenggara negara masih tertutup oleh sikap daerahisme, biaya penelitian yang sangat rendah sehingga penemuan teknologi tidak pernah tuntas, para petani enggan bekerjasama sehingga kelembagaan tidak berkembang, organisasi pemerintahan belum terpadu dan sering tidak efektif bagi pembangunan pertanian.

Masalah yang dihadapi dari sisi eksternal adalah ancaman dari luar negeri atau globalisasi dalam berbagai bentuk seperti perdagangan bebas dunia dan perdagangan gelap seperti penyeludupan dan impor barang legal dengan jenis barang yang dipalsukan. Perdagangan bebas yang diyakini dapat menciptakan kemakmuran dunia, ternyata menjadi media untuk menghancurkan yang lemah. Harga dunia yang dapat berfungsi sebagai media efisiensi penggunaan sumberdaya ternyata dapat diubah sesuai keinginan negara yang kaya dan kuat melalui subsidi para petani. Indonesia tidak lagi mungkin menggunakan harga dunia sebagai menara bagi peningkatan daya saing. Penyelundupan hasil-hasil pertanian dari luar negeri terus berlangsung sebagai konsekuensi permintaan dalam negeri yang tinggi, harga dunia yang lebih rendah dan kelemahan aparat dalam menindak penyeludunpan.

Untuk menghalangi kelemahan-kelemahan ini, Indonesia memang harus berjuang supaya perdagangan dapat berjalan adil. Perjuangan ini akan berat mengingat negara-negara maju tidak mundur dari kebijakan pertanian di daerahnya. Negara-negara maju mempunyai prinsip bahwa hasil pertanian atau  pangan merupakan kebutuhan hayati yang tidak dapat digantikan oleh produk industri. Produksi pangan merupakan kunci kekuatan sebuah negara oleh karena itu subsidi pertanian merupakan suatu hal yang layak dan perlu sangat diprioritaskan berapa besar biayanya.Kebijakan pertanian terutama subsidi pada petani akan dapat menjamin insentif petani untuk berproduksi dan merubah sistem pertanian. Jika petani mendapat jaminan subsidi, mereka akan lebih digerakkan kepada kemajuan. Jika pasar bebas dunia masih berlangsung tidak adil seperti yang sekarang maka Indonesia melakukan kerjasama secara intensif dengan berbagai negara lain. Kerjasama ini akan dapat membantu kebuntuan globalisasi pasar bebas.

C. Realitas Kemiskinan Perdesaan

 

Jumlah dan persentase penduduk miskin menurun dari tahun 2004 ke 2005. Namun, pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin mengalami kenaikan karena harga barang-barang kebutuhan pokok saat itu naik tinggi yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 17,95 persen. Namun mulai tahun 2007 sampai 2012 jumlah maupun persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan.

Perkembangan tingkat kemiskinan dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2012 ditunjukkan oleh Grafik 2.

Pada Tabel 2 dapat penulis simpulkan, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2012 mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen). Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2012 , maka selama enam bulan tersebut terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 0,54 juta orang. Berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode Maret 2012–September 2012, baik penduduk miskin di daerah perkotaan maupun perdesaan sama-sama mengalami penurunan, yaitu masing-masing turun sebesar 0,18 persen (0,14 juta orang) dan 0,42 persen (0,40 juta orang).

Dari jumlah penduduk miskin tersebut diantaranya tersebar di pedesaan, dimana secara geografis daerah pedesaan di Indonesia sebagian besar penduduknya hidup dan bermatapencaharian dari sektor pertanian. Sehingga secara langsung maupun tidak langsung data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian sebagai mata pencaharian bagi sebagian besar masyarakat Indonesia berada dalam lingkup kemiskinan secara agroekosistem. Data dari Tabel 3 menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor utama penyerap tenaga kerja.

Jumlah penyerapan tenaga kerja sektor pertanian pada tahun 2011 sebesar 39,3 juta orang atau merupakan 33,51 % dari jumlah total angkatan kerja nasional. Proporsi penyerapan tenaga kerja tersebut relatif tidak berubah dari tahun ke tahun, di mana sektor pertanian masih merupakan sektor andalan dalam penyerapan tenaga kerja nasional. Agar usahatani lebih efisien seharusnya sektor industri mampu lebih besar lagi menyerap tenaga kerja nasional.

D. Permasalahan Kemiskinan Pedesaan Pada Sektor Pertanian

Permasalahan kemiskinan pedesaan secara spesifik dalam kegiatan pertanian sangat beragam berdasarkan agroekosistem maupun usahatani yang dilakukan maka upaya kearah pemahaman akar kemiskinan itu sendiri merupakan prasyarat utama dan penting untuk dilakukan. Seringkali terdapat kecenderungan pemaksaan program-program pengentasan/penanggulangan kemiskinan yang bersifat general dimana semua permasalahan kemiskinan dianggap sama pada setiap daerah/agroekosistem.

Selain itu, adanya kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi pembangunan ke daerah kabupaten dan kota, hendaknya dijadikan media untuk lebih mendekatkan dan menjelaskan kondisi akar kemiskinan yang sebenarnya pada setiap daerah otonom sehingga dapat melanjutkan tindakan penanggulangan kemiskinan yang terarah, mengingat kajian secara spesifik tentang permasalahan kemiskinan yang dihadapi nampaknya akan lebih efektif melalui akurasi data riil di tingkat mikro, sebagai upaya awal untuk membenahi sekaligus mendorong agar tindakan yang dilakukan bisa lebih efektif dan mengenai sasaran.

Lebih lanjut, pemahaman dan kriteria tentang batasan kemiskinan yang khusus berdasarkan kondisi pertanian secara spesifik sudah saatnya dipikirkan kembali agar penanganan masalah kemiskinan di sektor pertanian bisa lebih terarah dan pasti.

E. Kesimpulan

Sektor pertanian merupakan bagian dari sektor riil yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia, karena sebagai negara agraris seharusnya menjadi tulang punggung perekonomian. Sektor pertanian berperan diantaranya melalui penyerapan tenaga kerja, penghasil devisa dan Produk Domestik Bruto (PDB), penyedia kebutuhan pokok dan sebagai jalur utama perekonomian pedesaan. Sebagai tulang punggung perekonomian, sektor pertanian diharapkan dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan PDB. Namun kontribusi sektor pertanian terhadap PDB jika dbandingkan dengan sektor ekonomi lainnya dapat dikatakan relatif kecil.

Masih banyak kelemahan-kelemahan yang dihadapi sektor pertanian, baik itu dari sisi internal maupun dari sisi eksternal, Oleh karena itu perbaikan pada sektor pertanian harus segera dilaksanakan, sehingga dapat membantu mengurangi kemiskinan yang ada di daerah pedesaan.

Restrukturisasi terhadap data kemiskinan di sektor pertanian dengan segala batasan-batasan yang riil di tingkat petani, nampaknya perlu ditinjau kembali dalam upaya membenahi langkah konkrit yang akan diambil oleh pengambil kebijakan. Dengan demikian secara bertahap pembangunan pedesaaan yang bertumpu pada masyarakat pertanian terus berkembang pada kemampuan yang mandiri. Konsep pemberdayaan nampaknya akan lebih berharga menciptakan ekonomi rakyat dari pada menciptakan ketergantungan pada berbagai bantuan. Kemiskinan juga harus dipahami sebagai suatu masalah sosial yang bersifat multi-dimensional. Kemiskinan tidak hanya karena pendapatan yang kurang, tetapi juga kondisi kesehatan buruk, pendidikan rendah dan keahlian terbatas, akses terhadap tanah dan modal rendah, sangat rentan terhadap gejolak ekonomi, bencana alam, konflik sosial dan resiko lainnya, partisipasi rendah dalam proses pengambilan kebijakan, serta keamanan individu yang sangat kurang.

 

Referensi

Bappenas. Kajian Evaluasi Revitalisasi Pertanian Dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan Petani. Jakarta, Desember 2012.

Kementerian Pertanian. Laporan Kinerja Kementerian Pertanian Tahun 2011. Jakarta, Desember 2011.

“Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan III-2012 .” http://bps.go.id (akses 23 Februari 2013)

“Profil Kemiskinan di Indonesia Maret 2012.” http://bps.go.id (akses 23 Februari 2013)

“Profil Kemiskinan di Indonesia September 2012.” http://bps.go.id (akses 23 Februari 2013)

Rangkuti, Muhammad Ismail Mahir. “Pengaruh Investasi Dan Pertumbuhan Di Sektor Pertanian Terhadap Jumlah Tenaga Kerja Sektor Pertanian.” Skripsi Sarjana Ekstensi, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2009.

Appendix

Tabel 1 Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Pada Sektor Pertanian Indonesia 2008-2012

1

 

Keterangan : * Angka Sementara ** Angka Sangat Sementara

Sumber: BPS

Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2011 (persen)

2

 

Sumber: BPS

Grafik 2 Perkembangan Kemiskinan di Indonesia, 2004–2012

3

 

Tabel 2 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2012–September 2012 

4

Sumber BPS (Data ketenagakerjaan bulan Agustus pada masing-masing tahun)

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: