Teori Pertumbuhan Dan Pembangunan Ekonomi

oleh: T. Sholehan Suyuti

PENGELOMPOKAN TEORI

Untuk mengelompokkan teori-teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi secara tepat dan sederhana bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan misalnya “periode waktu” lahirnya teori tersebut atau “ide” dari teori tersebut. Namun demikian, setelah memperhatikan beberapa kepustakaan yang membahas tentang teori pembangunan, akhirnya dibuat klasifikasi seperti yang dibahas dalarn bab ini. Tentunya tidak semua teori yang ada akan dibahas di sini mengingat buku ini hanya ditujukan untuk tingkat pengantar saja.

Dari mazhab historismus dibahas teori Friedrich List, Bruno HiIlebrand, Karl Bucher, dan W. W Rostow.

A. MAZHAB HISTORISMUS

Mazhab Historismus ini melihat pembangunan ekonomi berdasarkan suatu pola pendekatan yang berpangkal pada perspektif sejarah. Dalam alam pikiran mazhab ini fenomena ekonomi adalah produk perkembangan menyeluruh dan dalam tahap tertentu dalam perjalanan sejarah. Mazhab ini mendominasi pemikiran ekonomi di Jerman selama abad XIX sampai awal XX.

A.1. FRIEDRICH LIST (Cara Produksi)

List dipandang sebagai pelopor yang meletakkan landasan bagi pertumbuhan pemikiran ekonomi mazhab Historismus ini. Menurut List, sistem liberalisme yang laissez-faire dapat menjamin alokasi sumberdaya secara optimal. Perkembangan ekonomi sebenarnya tergantung pada peranan pemerintah, organisasi swasta dan lingkungan kebudayaan. Perkembangan ekonomi hanya akan terjadi,  jika dalam masyarakat ada kebebasan dalam organisasi politik dan kebebasan perorangan.

Perkembangan ekonomi, menurut List, melalui 5 tahap yaitu tahap primitif, beternak, pertanian, pertanian dan industri pengolahan (manufacturing), dan akhirnya pertanian, industri pengolahan dan perdagangan.

Pendekatan List dalam menentukan tahap-tahap perkembangan ekonomi tersebut berdasarkan pada “cara produksi” nya.

Selain itu, List juga berpendapat bahwa daerah-daerah beriklim sedang paling cocok untuk pengembangan industri, karena adanya kepadatan penduduk yang sedang yang merupakan pasar yang cukup memadai. Sedangkan daerah tropis kurang cocok untuk industri karena pada umumnya daerah tersebut berpenduduk sangat padat dan pertanian masih kurang efisien.

A.2. BRUNO HILDEBRAND (Cara Distribusi)

Pemikiran Hildebrand selalu menekankan evolusi dalam perekonomian masyarakat. Sebagai kritiknya terhadap List, Hildebrand mengatakan bahwa perkembangan ekonomi bukan didasarkan pada “cara produksi” ataupun “cara konsumsi”tetapi pada “cara distribusi” yang digunakan. Oleh karena itu ia mengemukakan 3 sistem distribusi yaitu:

1. Perekonomian Barter (natura)

2. Perekonomian Uang

3. Perekonomian Kredit

Sayangnya, Hildebrand tidak menjelaskan proses perkembangan dari tahap tertentu ke tahap berikutnya. Selain itu, Hildebrand juga ternyata tidak memberi sumbangan yang berarti terhadap peralatan analitis di bidang ilmu ekonomi.

A.3. KARL BUCHER (Produksi & Distribusi)

Pendapat Bucher merupakan sintesa dari pendapat List dan Hildebrand. Menurut Bucher, perkembangan ekonomi melalui 3 tahap yaitu:

1. Produksi untuk kebutuhan sendiri (subsistem)

2. Perekonomian kota di mana pertukaran sudah meluas  .

3. Perekonomian nasional di mana peran pedagang menjadi semakin penting.

A.4. W. W. ROSTOW

Teori pembangunan ekonomi dari Rostow ini sangat populer dan paling banyak mendapatkan komentar dari para ahli. Teori ini pada mulanya merupakan artikel Rostow yang dimuat dalam Economics Journal (Maret 1956) dan kemudian dikembangkannya lebih lanjut dalam bukunya yang berjudul The Stages of Economic Growth (1960). Menurut pengklasifikasian Todaro, teori Rostow ini dikelompokkan ke dalam model jenjang linear (linear stages mode/).

Menurut Rostow, proses pembancunan ekonomi bisa dibedakan ke dalam 5 tahap :

1)      Masyarakat tradisional (the traditional society),

2)      Prasyarat untuk tinggal landas (the preconditions for take-off),

3)      Tinggal landas (the take-off),

4)      Menuju kekedewasaan (the drive to maturity), dan

5)      Masa konsumsi tinggi (the age of high mass-consumption)

Dasar pembedaan tahap pembangunan ekonomi menjadi 5 tahap tersebut adalah:

1)      Karakteristik perubahan keadaan ekonomi,

2)      sosial, dan

3)      politik, yang terjadi.

Menurut Rostow, pembangunan ekonomi atau proses transformasi suatu masyarakat tradisional menjadi masyarakat moderen merupakan suatu proses yang multidimensional. Pembangunan ekonomi bukan hanya berarti perubahan struktur ekonomi suatu negara yang ditunjukkan oleh menurunnya peranan sektor pertanian dan peningkatan peranan sektor industri saja.

Menurut Rostow, disamping perubahan seperti itu, pembangunan ekonomi berarti pula sebagai suatu proses yang menyebabkan antara lain:

(1) perubahan orientasi organisasi ekonomi, politik, dan sosial yang pada mulanya berorientasi kepada suatu daerah menjadi berorientasi ke luar.

(2) perubahan pandangan masyarakat mengenai jumlah anak dalam keluarga, yaitu dari menginginkan banyak anak menjadi keluarga kecil.

(3) perubahan dalam kegiatan investasi masyarakat, dari melakukan investasi yang tidak produktif (menumpuk emas, membeli rumah, dan sebagainya) menjadi investasi yang produktif.

(4) perubahan sikap hidup dan adat istiadat yang terjadi kurang merangsang pembangunan ekonomi (misalnya penghargaan terhadap waktu, penghargaan terhadap pertasi perorangan dan sebagainya).

1) Masyakarat Tradisional

Masyarakat yang fungsi produksinya terbatas yang ditandai oleh cara produksi yang relatif masih primitif (yang didasarkan pada ilmu dan teknologi pra-Newton) dan cara hidup masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang rasional, tetapi kebiasaan tersebut telah turun temurun. Tingkat produktivitas per pekerja masih rendah, oleh karena itu sebagian besar sumberdaya masyarakat digunakan untuk kegiatan sektor pertanian. Dalam sektor pertanian ini, struktur sosialnya bersifat hirarkhis yaitu mobilitas vertikal anggota masyarakat dalam struktur sosial kemungkinannya sangat kecil. Maksudnya adalah bahwa kedudukan seseorang dalam masyarakat tidak akan berbeda dengan nenek moyangnya.

Sementara itu kegiatan politik dan pemerintah pada masa ini digambarkan Rostow dengan adanya kenyataan bahwa walaupun kadang-kadang terdapat sentralisasi dalam pemerintahan, tetapi pusat kekuasaan politik di daerah-daerah berada di tangan para tuan tanah yang ada di daerah tersebut. Kebijaksanaan pemerintah pusat selalu dipengaruhi oleh pandangan para tuan tanah di daerah tersebut.

2) Tahap Prasyarat Tinggal Landas

Tahap prasyarat tinggal landas ini didefinisikan Rostow sebagai suatu masa transisi di mana masyarakat mempersiapkan dirinya untuk mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri (selfsustained growth). Menurut Rostow, pada tahap ini dan sesudahnya pertumbuhan ekonomi akan terjadi secara otomatis.

Tahap prasyarat tinggal landas ini mempunyai 2 corak.

1)      Pertama adalah tahap prasyarat lepas landas yang dialami oleh negara-negara Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika, di mana tahap ini dicapai dengan perombakan masyarakat tradisional yang sudah lama ada.

2)      Kedua adalah tahap prasyarat tinggal landas yang dicapai oleh negara-negara yang born free (menurut Rostow) seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, di mana negara¬negara tersebut mencapai tahap tinggal landas tanpa harus merombak sistem masyarakat yang tradisional.

Selain hal-hal yang diungkapkan di atas, Rostow juga menunjukkan bentuk perubahan dalam kepemimpinan pemerintahan dari masyarakat yang mengalami transisi. Untuk menjamin terciptanya pembangunan yang teratur, suatu kepemimpinan baru haruslah mempunyai sifat nasionalisme yang reaktif (reactive nationalism) yaitu bereaksi secara positif atas tekanan¬tekanan dari negara maju. Rostow yakin bahwa tanpa adanya tekanan atau hinaan dari negara¬negara maju, modernisasi yang terjad Tahap Tinggal Landas

3)      Tahap tinggal landas,

Pertumbuhan ekonomi selalu terjadi. Pada awal tahap ini terjadi perubahan yang drastis dalam masyarakat seperti revolusi politik, terciptanya kemajuan yang pesat dalam inovasi, atau berupa terbukanya pasar-pasar baru. Sebagai akibat dari perubahan¬perubahan tersebut secara teratur akan tercipta inovasi-inovasi dan peningkatan investasi. Investasi yang semakin tinggi ini akan mempercepat laju pertumbuhan pendapatan nasional dan melebihi tingkat pertumbuhan penduduk. Dengan demikian tingkat pendapatan per kapita semakin besar.

Rostow mengemukakan 3 ciri utama dan negara-negara yang sudah mencapai masa tinggal landas yaitu:

1.   Terjadinya kenaikan investasi produktif dari 5 persen atau kurang menjadi 10 persen dari Produk Nasional Bersih (Net National Product= NNP).

2.   Terjadinya perkembangan satu atau beberapa sektor industri dengan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi (leading sectors).

3.   Terciptanya suatu kerangka dasar politik, sosial, dan kelembagaan yang bisa menciptakan perkembangan sektor modern dan eksternalitas ekonomi yang bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi terus terjadi.

Berdasarkan pada kenyataan tersebut, Rostow mengambil kesimpulan bahwa untuk mencapai tahap tinggal landas tidak satu sektor ekonomipun yang baku untuk semua negara yang bisa menciptakan pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, suatu negara tertentu tidak bisa hanya sekadar mencontoh pola perkembangan sektor pemimpin negara-negara lain. Namun demikian, ada 4 faktor penting yang harus diperhatikan dalam menciptakan sektor pemimpin yaitu:

1. Harus ada kemungkinan untuk perluasan pasar bagi barang-barang yang diproduksi yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang dengan cepat.

2.  Dalam sektor tersebut harus dikembangkan teknik produksi yang modern dan kapasitas produksi harus bisa diperluas.

3.  Harus tercipta tabungan dalam masyarakat dan para pengusaha harus menanamkan kembali keuntungannya untuk membiayai pembangunan sektor pemimpin.

4. Pembangunan dan transformasi teknologi sektor pemimpin haruslah bisa menciptakan kebutuhan akan adanya perluasan kapasitas dan modernisasi sektor-sektor lain.

4) Tahap Menuju Kekedewasaan

Tahap menuju kedewasaan ini diartikan Rostow sebagai masa di mana masyarakat sudah secara efektif menggunakan teknologi moderen pada hampir semua kegiatan produksi. Pada tahap ini sektor-sektor pemimpin baru akan muncul menggantikan sektor-sektor pemimpin lama yang akan mengalami kemunduran. Sektor-sektor pemimpin baru ini coraknya ditentukan oleh perkem¬bangan teknologi, kekayaan alam, sifat-sifat dari tahap lepas landas yang terjadi, dan juga oleh kebijaksanaan pemerintah.

Dalam menganalisis karakteristik tahap menuju ke kedewasaan, Rostow menekankan analisisnya kepada corak perubahan sektor-sektor pemimpin di beberapa negara yang sekarang sudah maju. la juga menunjukkan bahwa di tiap-tiap negara tersebutjenis¬jenis sektor pemimpin pada tahap sesudah tinggal landas adalah berbeda dengan yang ada pada tahap tinggal landas. Di Inggris, misalnya, industri tekstil yang telah mempelopori pembangunan pada tahap tinggal landas telah digantikan oleh industri besi, batu bara dan peralatan teknik berat. Sedangkan di Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman di mana pembangunanjaringanjalan kereta api memegang peranan penting pada tahap tinggal landas, telah digantikan oleh industri baja dan industri peralatan berat pada tahap menuju ke kedewasaan.

Selanjutnya Rostow mengemukakan pula karakteristik non-ekonomis dari masyarakat yang teiah mencapai tahap menuju ke kedewasaan sebagai berikut:

1.   Struktur dan keahlian tenaga kerja mengalami perubahan. Peranan sektor industri semakin penting, sedangkan sektor pertanian menurun.

2.   Sifat kepemimpinan dalam perusahaan mengalami perubahan. Peranan manajer professional semakin penting dan menggantikan kedudukan pengusaha-pemilik.

3.   Kritik-kritik terhadap industrialisasi mulai muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan terhadap dampak industrialisasi.

5) Tahap Konsumsi Tinggi

Tahap konsumsi tinggi ini merupakan tahap terakhir dari teori pembangunan ekonomi Rostow. Pada tahap ini perhatian masyarakat telah lebih menekankan pada masalah-masalah yang berkaitan dengan konsumsi dan kesejahteraan masyarakat bukan lagi kepada masalah produksi.

Pada tahap ini ada 3 macam tujuan masyarakat (negara) yaitu:

1.   Memperbesar kekuasaan dan pengaruh ke luar negeri dan kecenderungan ini bisa berakhir pada penjajahan terhadap bangsa lain.

2. Menciptakan negara kesejahteraan (welfare state) dengan cara mengusahakan terciptanya pembagian pendapatan yang lebih merata melalui sistem pajak yang progresif.

3.  Meningkatkan konsumsi masyarakat melebihi kebutuhan pokok (sandang, pangan, dan papan) menjadi meliputi pula barang-barang konsumsi tahan lama dan barang-barang mewah.

Beberapa Kritik terhadap Teori Rostow

Beberapa kritik yang muncul terhadap teori Rostow ini antara lain berkaitan dengan adanya tumpang tindih tahapan, periode jangka waktu tahap tinggal landas yang meragukan, adanya masyarakat yang tidak melalui tahap tradisional.

MAZHAB  ANALITIS

Teori-teori pembangunan ekonomi yang termasuk dalam mazhab ini berusaha mengungkapkan proses pertumbuhan ekonomi secara logis dan taat-asas (konsisten), tetapi sering bersifat abstrak dan kurang menekankan kepada aspek empiris (historis)nya. Kecenderungan semacam ini tampak lebih jelas dalam teori-teori pertumbuhan “moderen”.

B. TEORI KLASIK:

 

1. ADAM SMITH (1723 – 1790)

Adam Smith ternyata bukan saja terkenal sebagai pelopor pembangunan ekonomi dan kebijaksanaan laissez-faire, tetapi juga merupakan ekonom pertama yang banyak menumpahkan perhatian kepada masalah pertumbuhan ekonomi. Dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776) ia mengemukakan tentang proses pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara sistematis.

Agar inti dari proses pertumbuhan ekonomi menurut Smith ini mudah dipahami, kita bedakan dua aspek utama pertumbuhan ekonomi yaitu:

a.  pertumbuhan output total

b.  pertumbuhan penduduk

ad (a) Pertumbuhan Output Total

Unsur pokok dari sistem produksi suatu negara menurut Smith ada tiga yaitu:

1. sumberdaya alam yang tersedia (atau faktor produksi “tanah”)

2. sumberdaya insani (atau jumlah penduduk)

3. stok barang modal yang ada.

Menurut Smith, sumberdaya alam yang tersedia merupakan wadah yang paling mendasar dari kegiatan produksi suatu masyarakat. Jumlah sumberdaya alam yang tersedia merupakan “batas maksimum” bagi pertumbuhan suatu perekonomian. Maksudnya, jika sumberdaya ini belum digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok modal yang ada yang memegang peranan dalam pertumbuhan output. Tetapi pertumbuhan output tersebut akan berhenti jika semua sumberdaya alam tersebut telah digunakan secara penuh.

Namun demikian, sebenarnya ada 2 faktor penunjang penting dibalik proses akumulasi modal bagi terciptanya pertumbuhan output yaitu:

1. makin meluasnya pasar, dan

2. adanya tingkat keuntungan di atas tingkat keuntungan minimal.

ad (b) Pertumbuhan Penduduk

Menurut Adam Smith, jumlah penduduk akan meningkat jika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari tingkat upah subsisten yaitu tingkat upah yang pas-pasan untuk hidup. Jika tingkat upah di atas tingkat subsisten, maka orang-orang akan kawin pada umur muda, tingkat kematian menurun, dan jumlah kelahiran meningkat. Sebaliknya jika tingkat upah yang berlaku lebih rendah dari tingkat upah subsisten, maka jumlah penduduk akan menurun.

Tingkat upah yang berlaku, menurut Adam Smith, ditentukan oleh tarik-menarik antara kekuatan permintaan dan penawaran tenaga kerja. Tingkat upah yang tinggi dan meningkat jika permintaan akan tenaga kerja (D) tumbuh lebih cepat daripada penawaran tenaga kerja (S).

Sementara itu permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh stok modal dan tingkat output masyarakat. Oleh karena itu, laju pertumbuhan permintaan akan tenaga kerja ditentukan oleh laju pertumbuhan stok modal (akumulasi modal) dan laju pertumbuhan output.

Kritik terhadap Teori Adam Smith

Seperti digambarkan di muka, teori Adam Smith ini telah memberikan sumbangan yang besar dalam menunjukkan bagaimana pertumbuhan ekonomi terjadi dan faktor-faktor apa yang dapat menghambatnya. Namun demikian, ada beberapa kritik terhadap teori Adam Smith antara lain:

1. Pembagian Kelas dalam Masyarakat

Teori Smith ini didasarkan pada lingkungan sosial ekonomi yang berlaku di Inggris dan di beberapa negara Eropa. Teori ini mengasumsikan adanya pembagian masyarakat secara tegas yaitu antara golongan kapitalis (termasuk tuan tanah) dan para buruh. Padahal dalam kenyataan¬nya, seringkali kelas menengah mempunyai peran yang sangat penting dalam masyarakat modern. Dengan kata lain, teori Smith mengabaikan peranan kelas menengah dalam mendorong pembangunan ekonomi.

2. Alasan Menabung

Menurut Smith orang yang dapat menabung adalah para kapitalis, tuan tanah, dan lintah darat. Namun ini adalah alasan yang tidak adil, sebab tidak terpikir olehnya bahwa sumber utama tabungan di dalam masyarakat yang maju adalah para penerima pendapatan, dan bukan kapitalis serta tuan tanah.

3. Asumsi Persaingan Sempurna

Asumsi utama teori Adam Smith ini adalah persaingan sempurna. Kebijakan pasar bebas dari persaingan sempurna ini tidak ditemukan di dalam perekonomian manapun. Sejumlah kendala batasan malahan dikenakan pada sektor perorangan (misalnya larangan monopoli) dan perdagangan internasional (misalnya adanya proteksi) pada setiap negara di dunia.

4. Pengabaian Peranan Entrepreneur

Smith agak mengambaikan peranan entrepreneur dalam pembangunan. Padahal para entrepreneur ini mempunyai peranan yang sentral dalam pembangunan. Mereka inilah yang menciptakan inovasi dan pada akhirnya menghasilkan akumulasi modal.

5. Asumsi Stasioner

Menurut Smith, hasil akhir suatu perekonomian kapitalis adalah keadaan stasioner. IN berarti bahwa perubahan hanya terjadi di sekitar titik keseimbangan tersebut. Padahal dalam kenyataannya proses pembangunan itu seringkali terjadi teratur dan tidak seragam. Jadi asumsi ini tidak realistis.

2. DAVID RICARDO (1772 – 1823)

Garis besar proses pertumbuhan dan kesimpulan-kesimpulan dari Ricardo tidak jauh berbeda dengan teori Adam Smith. Tema dari proses pertumbuhan ekonomi masih pada perpacuan antara laju pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan output. Selain itu Ricardo juga menganggap bahwa jumlah faktor produksi tanah (sumberdaya alam) tidak bisa bertambah, sehingga akhirnya menjadi faktor pembatas dalam proses pertumbuhan suatu masyarakat.

Teori Ricardo ini diungkapkan pertama kali dalam bukunya yang berjudul The Principles of Political Economy and Taxation yang diterbitkan pada tahun 1917.

Proses Pertumbuhan

Sebelum membicarakan aspek-aspek pertumbuhan dari Ricardo, terlebih dulu kita coba untuk mengenai ciri-ciri perekonomian Ricardo sebagai berikut:

a)   Jumlah tanah terbatas.

b) Tenaga kerja (penduduk) meningkat atau menurun tergantung pada apakah tingkat upah di atas atau di bawah tingkat upah minimal (tingkat upah alamiah = natural wage).

c)   Akumulasi modal terjadi bila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik modal berada di atas tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik mereka melakukan investasi.

d)   Kemajuan teknologi terjadi sepanjang waktu.

e)   Sektor pertanian dominan.

Dengan terbatasnya luas tanah, maka pertumbuhan.penduduk (tenaga kerja) akan menurunkan produk marginal (marginal product) yang kita kenal dengan istilah the law of diminishing returns. Selama buruh yang dipekerjakan pada tanah tersebut bisa menerima tingkat upah di atas tingkat upah alamiah, maka penduduk (tenaga kerja) akan terus bertambah, dan hal ini akan menurunkan lagi produk marginal tenaga kerja dan pada gilirannya akan menekankan tingkat upah ke bawah.

Menurut Ricardo, peranan akumulasi modal dan kemajuan teknologi adalah cenderung meningkatkan produktivitas tenaga kerja, artinya, bisa memperlambat bekerjanya the law of diminishing returns yang pada gilirannya akan memperlambat pula penurunan tingkat hidup ke arah tingkat hidup minimal. Inilah inti dari proses pertumbuhan ekonomi (kapitalis) menurut Ricardo. Proses ini tidak lain adalah proses tarik menarik antara dua kekuatan dinamis yaitu antara:

a) the law of diminishing returns dan

b) kemajuan teknologi.

Sayangnya, proses tarik-menarik tersebut akhirnya dimenangkan oleh the law of diminishing returns, demikian Ricardo. Keterbatasan faktor produksi tanah (sumbersdaya alam) akan membatasi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Suatu negara hanya bisa tumbuh dampai batas yang dimungkinkan oleh sumberdaya alamnya.

Apabila semua potensi sumberdaya alam telah dieksploitir secara penuh maka perekonomian berhenti tumbuh. Masyarakat mencapai posisi stasionernya, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a) tingkat output konstan

b) jumlah penduduk konstan

c) pendapatan per kapita juga menjadi konstan

d) tingkat upah pada tingkat upah alamiah (minimal)

e) tingkat keuntungan pada tingkat yang minimal

f) akumulasi modal berhenti (stok modal konstan)

g) tingkat sewa tanah yang maksimal.

Kritik terhadap Teori Ricardo

1. Pengabaian Pengaruh Kemajuan Teknologi

Ricardo menjelaskan bahwa kemajuan teknologi di sektor industri akan mengakibatkan penggantian tenaga kerja. Pada awalnya kemajuan teknologi tersebut dapat menahan laju berlakunya the law of diminishing returns, tetapi akhirnya pengaruh kemajuan teknologi tersebut habis dan perekonomian menuju ke arah stasioner. Kenyataannya kenaikan produksi pertanian yang sangat pesat di negara-negara maju telah membuktikan bahwa Ricardo kurang memperhatikan potensi kemajuan teknologi dalam menahan laju berlakunya the law of diminishing returns dari faktor produksi tanah.

2. Pengertian yang Salah tentang Keadaan Stasioner

Pandangan Ricardo bahwa negara akan mencapai keadaan stasioner secara otomatis adalah tidak beralasan, karena tidak ada perekonomian yang mencapai keadaan stasioner dengan laba yang meningkat, produksi yang meningkat, dan akumulasi modal terjadi.

3. Pengabaian Faktor-faktor Kelembagaan

Salah satu kelemahan pokok dari teori Ricardo ini adalah pengabaian peranan faktor-faktor kelembagaan. Faktor-faktor ini diasumsikan secara tertentu. Meskipun demikian, faktor tersebut penting sekali dalam pembangunan ekonomi dan tidak dapat diabaikan.

4. Teori Ricardo bukan Teori Pertumbuhan

Menurut Schumpeter, teori Ricardo bukanlah teori pertumbuhan ekonomi tetapi teori distribusi yang menentukan besarnya pangsa tenaga kerja, tuan tanah, dan pemilik modal. Bahkan dia menganggap bahwa pangsa untuk tanah adalah sangat utama, dan sisanya sebagai pangsa tenaga kerja dan modal. Ricardo gagal menunjukkan teori distribusi fungsional karena ia tidak menentukan pangsa dari masing-masing faktor produksi secara terpisah.

5. Pengabaian Suku Bunga

Kelemahan lain dari teori Ricardo ini adalah pengabaian suku bunga dalam pertumbuhan ekonomi. la tidak menganggap suku bunga sebagai imbalan jasa yang terpisah dari modal tetapi termasuk dalam laba. Pendapat yang salah ini berasal dari ketidakmampuannya untuk membedakan pemilik modal dari pengusaha (entrepreneur).

 

C. TEORI NEO KLASIK (SOLOW-SWAN)

Teori pertumbuhan ekonomi Neo Klasik berkembang sejak tahun 1950-an. Teori ini berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi menurut pandangan ekonomi Klasik. Ekonomi yang menjadi perintis dalam mengembangkan teori tersebut adalah Robert Solow (Massachussets Institute of Technology) dan Trevor Swan (The Australian National University). Solow ini memenangkan hadiah Nobel Ekonomi tahun 1987 atas karyanya tentang teori pertumbuhan ekonomi ini.

Menurut teori ini, pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan faktor¬faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal) dan tingkat kemajuan teknologi. Pandangan ini didasarkan kepada anggapan yang mendasari analisis Klasik, yaitu perekonomian akan tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh (full employment) dan kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan kata lain, sampai di mana perekono¬mian akan berkembang tergantung pada pertambahan penduduk, akumulasi kapital, dan kemajuan teknologi.

Selanjutnya menurut teori ini, rasio modal-output (capital-output ratio = COR) bisa berubah. Dengan kata lain, untuk menciptakan sejumlah output tertentu, bisa digunakanjumlah modal yang berbeda-beda dengan bantuan tenaga kerja yang jumlahnya berbeda-beda pula, sesuai dengan yang dibutuhkan. Jika lebih banyak modal yang digunakan, maka tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit. Sebaliknya jika modal yang digunakan lebih sedikit, maka lebih banyak tenaga kerja yang digunakan. Dengan adanya “keluwesan” (fleksibilitas) ini suatu perekonomian mempunyai kebebasan yang talk terbatas dalam menentukan kombinasi modal dan tenaga kerja yang akan digunakan untuk menghasilkan tingkat output tertentu.

Fungsi Solow-Swan bisa dituliskan dengan cara berikut:

a

di mana:

b= tingkat produksi pada tahun t

c  = tingkat teknologi pada tahun t

d= jumlah stok barang modal pada tahun t

e = jumlah tenaga kerja pada tahun t

a = pertambahan output yang diciptakan oleh pertambahan satu unit modal.

b = pertambahan output yang diciptakan oleh pertambahan satu unit tenaga kerja.

Nilai c,a dan b bisa diestimasi secara empiris. Tetapi pada umumnya nilai a dan b ditentukan saja besarnya dengan menganggap bahwa a + b = 1, yang berarti bahwa a dan b nilainya adalah sama dengan produksi batas dari masing- masing faktor produksi tersebut. Dengan kata lain, nilai a dan b ditentukan dengan melihat peranan tenaga kerja dan modal dalam menciptakan output.

teori produksi

D. TEORI  KEYNESIAN (HARROD-DOMAR)

Teori pertumbuhan Harrod-Domar ini dikembangkan oleh dua ekonom sesudah Keynes yaitu Evsey Domar dan R. F. Harrod. Domar mengemukakan teorinya tersebut pertama kali pada tahun 1947 dalam jurnal American Economic Review, sedangkan Harrod telah mengemukakannya pada

tahun 1939 dalam Economic Journal. Teori ini sebenarnya dikembangkan oleh kedua ekonom secara send iri-sendiri, tetapi karena inti teori tersebut sama, maka sekarang ini dikenal sebagai teori Harrod-Domar.

Teori Harrod-Domar itu merupakan perluasan dari analisis Keynes mengenai kegiatan ekonomi secara nasional dan masalah tenaga kerja. Analisis Keynes dianggap kurang lengkap karena tidak membicarakan masalah-masalah ekonomi jangka panjang. Sedangkan teori Harrod¬Domar ini menganalisis syarat-syarat yang diperlukan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Dengan kata lain, teori ini berusaha menunjukkan syarat yang dibutuhkan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dengan mantap (steady growth).

Teori Harrod-Domar ini mempunyai beberapa asumsi yaitu:

1)   perekonomian dalam keadaan pengerjaan penuh (full employment) dan barang-barang modal yang terdiri dalam masyarakat digunakan secara penuh.

2)  terdiri dari 2 sektor yaitu sektor rumah tangga dan sektor perusahaan, berarti pemerintah dan perdagangan luar negeri tidak ada.

3)  besarnya tabungan masyarakat adalah proporsional dengan besarnya pendapatan nasional, berarti fungsi tabungan dimulai dari titik nol.

4) kecenderungan untuk menabung (marginal propensity to save = MPS) besarnya tetap, demikian juga ratio antara modal-output (capital-output ratio = COR) dan rasio pertambahan modal-output (incremental capital-output ratio = ICOR).

 

Dalam teori Harrod-Domar ini, fungsi produksinya berbentuk L karena sejumlah modal hanya dapat menciptakan suatu tingkat output tertentu (modal dan tenaga kerja tidak substitutif). Untuk menghasilkan output sebesar Q, diperlukan modal Ki dan tenaga kerja L,, dan apabila kombinasi itu berubah maka tingkat output berubah. Untuk output sebesar Q2, misalnya hanya dapat diciptakan jika stok modal sebesar K2.

Setelah mengemukakan berbagai asumsi di atas, sekarang kita membahas inti dari teori Harrod-Domar tersebut. Menurut Harrod-Domar, setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti barang-barang modal (gedung-gedung, peralatan, material) yang rusak. Namun demikian, untuk menumbuhkan perekonomian tersebut, diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan stok modal. Jika kita menganggap bahwa ada hubungan ekonomis secara langsung antara besarnya stok modal (K) dan output total (Y), misalnya jika 3 rupiah modal diperlukan untuk menghasilkan (kenaikan) output total sebesar 1 rupiah, maka setiap tambahan bersih terhadap stok modal (investasi baru) akan mengakibatkan kenaikan output total sesuai dengan rasio modal-output tersebut.

Fungsi Produksi Harrod – Domar

f

Hubungan tersebut, yang telah kita kenal dengan istilah rasio modal-output (COR), yaitu 3 berbanding 1. Jika kita menetapkan COR = k, rasio kecenderungan menabung (MPS) = s yang merupakan proporsi tetap dari output total, dan investasi ditentukan oleh tingkat tabungan, maka kita bisa menyusun model pertumbuhan ekonomi yang sederhana seperti berikut:

1. Tabungan (S) merupakan suatu proporsi (s) dari output total (Y), oleh karenanya kita mempunyai persamaan yang sederhana:

S  =  s.Y                                                                       (I)

2. Investasi (I) didefinisikan sebagai perubahan stok modal dan dilambangkan dengan (K, maka

            I  =  (K                                                             (II)

Tetapi karena stok modal (K) mempunyai hubungan langsung dengan output total (Y), seperti ditunjukkan oleh COR atau k, maka

    g          (IIa)

3. Akhirnya, karena tabungan total (S) harus sama dengan investasi total (I), maka

          S = I                                                                                  (III)

Tetapi dari persamaan (I) di atas kita tahu bahwa S= s.Y dan dari persamaan (II) dan (Ila) kita tahu bahwa I = (K = k.(Y. Oleh karena itu, kita bisa menuliskan identitas dari tabungan yang sama dengan investasi pada persamaan (Ila) itu sebagai:

        S  =  s.Y  = k.  h

        s.Y = k.

dan akhirnya kita mendapatkan:

i

j pada persamaan (IV) menunjukkan tingkat pertumbuhan output (persentase perubahan output).

Persamaan (IV), yang merupakan persamaan Harrod-Domar yang disederhanakan, menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan output j    ditentukan secara bersama oleh rasio tabungan (s) can rasio modal-output (COR = k). Secara lebih spesifik, persamaan itu menunjukkan bahwa tingka± pertumbuhan output secara positif berhubungan dengan rasio tabungan. Makin tinggi tabungan dan diinvestasikan, makin tinggi pula output. Sedangkan hubungan antara COR dengan tingkat  pertumbuhan output adalah negatif (makin besar COR, makin rendah tingkat pertumbuhan  output).

Logika ekonomi dari persamaan (IV) itu sangat sederhana. Jika ingin tumbuh, perekonomian harus menabung dan menginvestasikan suatu proporsi tertentu dari output totalnya. Semakin banyak tabungan dan kemudian diinvestaskan, maka semakin cepat perekonomian itu akan tumbuh. Tetapi tingkat pertumbuhan ekonomi yang nyata sebenarnya tergantung pada produktivitas dari investasi. Produktivitas investasi tersebut, yaitu berapa banyak tambahan investasi, bisa dihitung dengan kebalikan dari rasio modal – output (COR atau k) karena kebalikan ini (1/k) menggambarkan rasio output-modal atau rasio output- investasi. Selanjutnya dengan mengalikan tingkat investasi baru yaitu s= IN dengan produktivitasnya yaitu 1/k, akan menghasilkan tingkat kenaikan output total. Karena

s= S/Y, dan 1/k bisa dituliskan dengan  1/k  , maka s.1/k = I/Yl

Sebagai contoh perhitungan dari tingkat pertumbuhan ekonomi menurut Harrod-Domar ini adatah seperti di bawah ini;

Misalkan rasio modal-output (COR atau k) dari suatu negara adalah 3 dan rasio tabungan adalah 6 persen dari output total. Dengan menggunakan persamaan (IV) kita akan mendapatkan bahwa pertumbuhan ekonomi per tahun negara tersebut adalah 2 persen.

    m

Sekarang jika tingkat tabungan sebesar 15 persen, maka pertumbuhan ekonomi negara terbentuk naik dari 2 persen menjadi 5 persen per tahun.

  n

Demikianlah gambaran secara ringkas teori Keynesian yang dalam hal ini “diwakili” oleh teori Harrod-Domar.

Keterbatasan Teori Harrod-Domar

Ada beberapa kelemahan dari teori Harrod-Domar ini yang patut untuk dikemukakan yaitu:

1. MPS dan ICOR Tidak Konstan

Menurut teori ini, kecenderungan untuk menabung (MPS) dan ICOR diasumsikan konstan. Padahal kenyataannya kedua hal tersebut mungkin sekali berubah dalam jangka panjang dan ini berarti memodifikasi persyaratan-persyaratan pertumbuhan yang mantap yang diinginkan.

2. Proporsi Penggunaan Tenaga Kerja dan Modal Tidak Tetap

Asumsi bahwa tenaga kerja dan modal dipergunakan dalam proporsi yang tetap tidaklah dapat dipertahankan. Pada umumnya tenaga kerja dapat menggantikan modal dan perekonomian dapat bergerak lebih mulus ke arah lintasan pertumbuhan yang mantap. Dalam kenyataannya, lintasan ini tidak begitu stabil sehingga perekonomian harus mengalami inflasi kronis atau pengangguran kronis jika G tidak berhimpit dengan GW.

3. Harga Tidak akan Tetap Konstan

Model Harrod-Domar ini mengabaikan perubahan-perubahan harga pada umumnya. Padahal perubahan harga selalu terjadi di setiap waktu dan sebaliknya dapat menstabilkan situasi yang tidak stabil.

4. Suku Bunga Berubah

Asumsi bahwa suku bunga tidak mengalami perubahan adalah tidak relevan dengan analisis yang bersangkutan. Suku dapat berubah dan pada akhirnya akan mempengaruhi investasi.

F. TEORI SCHUMPETER

Teori Schumpeter ini pertama kali dikemukakan dalam bukunya yang berbahasa Jerman pada tahun 1911 yang dikemukakan pada tahun 1934 diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Theory of Economic Development. Kemudian Schumpeter menggambarkan teorinya lebih lanjut tentang proses pembangunan dan faktor utama yang menentukan pembangunan dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1939 dengan judul Business Cycle.

Salah satu pendapat Schumpeter yang penting, yang merupakan landasan teori pembangunannya, adalah keyakinannya bahwa sistem kapitalisme merupakan sistem yang paling baik untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang.pesat. Namun demikian, Schumpeter meramalkan secara pesimis bahwa dalam jangka panjang sistem kapitalisme akan mengalami kemandegan (stagnasi). Pendapat ini sama dengan pendapat kaum Klasik..

Dalam membahas perkembangan ekonomi, Schumpeter membedakan pengertian pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi walaupun keduanya merupakan sumber peningkatan output masyarakat. Menurut Schumpeter, pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan output masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa adanya perubahan “teknologi” produksi itu sendiri. Misalnya kenaikan output yang disebabkan oleh pertumbuhan stok modal tanpa perubahan teknologi produksi yang lama.

Sedangkan pembangunan ekonomi adalah kenaikan output yang disebabkan oleh inovasi yang dilakukan oleh para wiraswasta. Inovasi di sini berarti perbaikan “teknologi” dalam arti luar, misalnya penemuan produk baru, pembukaan pasar baru, dan sebagainya. Inovasi tersebut menyangkut perbaikan kuantitatif dari sistem ekonomi itu sendiri yang bersumber dari kreativitas para wiraswastanya.

Inovasi menurut Schumpeter mempunyai 3 pengaruh yaitu:

1.   diperkenalkannya teknologi baru

2.   menimbulkan keuntungan lebih (keuntungan monopolistis) yang merupakan sumber dana penting bagi akumulasi modal.

3. inovasi akan diikuti oleh timbulnya proses peniruan (imitasi) yaitu adanya pengusaha-pengusaha lain yang meniru teknologi baru tersebut.

Proses peniruan (imitasi) tersebut di atas pada akhirnya akan diikuti oleh investasi (akumulasi modal) oleh para peniru (imitator) tersebut. Proses peniruan ini mempunyai pengaruh berupa:

a) menurunnya keuntungan monopolistis yang dinikmati oleh para inovator, dan

b) penyebaran teknologi baru di dalam masyarakat, berarti teknologi tersebut tidak lagi menjadi monopoli bagi pencetusnya.

Kesemua proses yang dijelaskan dimuka meningkatkan output masyarakat dan secara keseluruhan merupakan proses pembangunan ekonomi. Dan menurut Schumpeter, sumber kemajuan ekonomi yang lebih penting adalah pembangunan ekonomi tersebut.

 

Faktor-faktor Penunjang Inovasi :

Menurut Schumpeter ada 5 macam kegiatan yang dimasukkan sebagai inovasi yaitu:

1. diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya tidak ada.

2. diperkenalkannya cara berproduksi baru.

3. pembukaan daerah-daerah pasar baru.

4. penemuan sumber-sumber bahan mentah baru.

5. perubahan organisasi industri sehingga efisiensi industri.

Syarat-syarat terjadinya inovasi:

a) harus tersedia cukup calon-calon pelaku inovasi (inovator dan wiraswasta) di dalam masyarakat.

b) harus ada lingkungan sosial, politik, dan teknologi yang bisa merangsang semangat inovasi dan pelaksanaan ide-ide untuk berinovasi.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan inovator atau entrepreneur adalah orang-orang yang terjun dalam dunia bisnis yang mempunyai semangat dan keberanian untuk menerapkan ide-ide baru menjadi kenyataan. Seorang inovator atau entrepreneur biasanya berani mengambil resiko usaha, karena memang ide-ide baru tersebut belum pernah dicoba diterapkan secara ekonomis sebelumnya. Biasanya mereka berani mengambil resiko usaha tersebut karena:

a) adanya kemungkinan bagi mereka untuk mendapatkan keuntungan monopolistis jika usahanya berhasil, dan

b) adanya semangat dan keinginan pada diri mereka untuk bisa mengalahkan saingan-saingan mereka melalui ide baru.

Jelas bahwa seorang inovator atau entrepreneur, menurut Schumpeter, bukanlah sekadar pengusaha atau wiraswasta biasa. Hanya mereka yang berani mencoba dan melaksanakan ide-ide baru yang bisa tersebut entrepreneur menurut Schumpeter. Pengusaha yang hanya mengelola secara rutin perusahaannya bukan entrepreneur tetapi hanyalah seorang manajer.

Selain itu, ada 2 faktor lain yang menunjang terlaksananya inovasi yaitu:

1. tersedianya cadangan ide-ide baru secara memadai.

2. adanya sistem perkreditan yang bisa menyediakan dana bagi para entrepreneur untuk merealisir ide-ide tersebut menjadi kenyataan.

Proses Kemajuan Ekonomi Menurut Schumpeter Secara Skematis

o

E. TEORI KETERGANTUNGAN

Teori ketergantungan (dependencia) ini pertama kali dikembangkan di Amerika Latin pada tahun 1960-an. Menurut para pengikut teori ini, keterbelakangan (underdeveloped) negara-negara Amerika Latin terjadi pada saat masyarakat prakapitalis tersebut “tergabung” (incorporated) ke dalam sistem ekonomi dunia kapitalis. Dengan demikian masyarakat tersebut kehilangan otonominya dan menjadi daerah “pinggiran” dari daerah-daerah metropolitan yang kapitalis.

Daerah-daerah “pinggiran” ini dijadikan daerah-daerah jajahan dari negara-negara metropolitan. Mereka hanya berfungsi sebagai prod usen-produsen bahan mentah bagi kebutuhan industri negara-negara metropolitan itu, dan sebaliknya merupakan konsumen barang-barang jadi yang dihasilkan industri-industri di negara-negara metropolitan tersebut. Dengan demikian timbul struktur ketergantungan yang merupakan rintangan yang hamper tak dapat diatasi serta merintangi pula pembangunan yang mandiri.

Dalam Mazhab “ketergantungan” ada 2 aliran yaitu aliran Marxis serta Neo-Marxis dan aliran non-Marxis. Aliran pertama diwakili oleh Andre Gunder Frank, Theotonio Dos Santos, Rudolfo Stavenhagen, Vasconi, Ruy Mauro Marini, dan F.H. Cardoso. Aliran ini menggunakan kerangka analisis dari teori Marx dan Neo-Marxis tentang imperialisme. Aliran ini tidak membedakan secara tajam antara struktur intern dan struktur ekstern, karena kedua struktur tersebut pada dasarnya dipandang sebagai faktor yang berasal dari sistem kapitalis dunia itu sendiri. Struktur intern masa kini dari daerah-daerah pinggiran tersebut memang sudah berabad-abad dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari luar sistem tersebut, sehingga seluruh struktur ini sudah terbuka bagi faktor ekstern. Dengan kata lain, struktur intern daerah pinggiran tersebut hanya menjadi bagian yang tergantung dari struktur kapitalis dunia.

Selain itu, aliran Marxis dan Neo-Marxis ini mengambil perspektif perjuangan kelas internasional antara para pemilik modal (para kapitalis) di satu pihak dan kaun buruh (massa proletar yang besar) dilain pihak. Untuk memperbaiki nasib dan kedudukan mereka, maka kaum proletar dunia perlu mengambil prakarsa dengan menumbangkan kekuasaan golongan kelas pemerintah yang hanya menjadi alat dari pusat metropolitan yang jahat. Oleh karena itu, menurut aliran ini, resep pembangunan untuk daerah pinggiran adalah revolusi.

Aliran kedua, yaitu aliran non-Marxis di pelopori oleh Celso Furtado, Helio Jaguaribe, Anibal Pinto, dan Osvaldo Sunkel. Aliran Non-Marxis ini terutama melihat masalah ketergantungan dari perspektif nasional atau regional, yaitu kawasan Amerika Latin. Aliran ini dengan tegas mem¬bedakan antara keadaan dalam negeri dan luar negeri. Menurut aliran ini struktur dan kondisi intern pada umumnya dilihat sebagai faktor yang berasal dari sistem itu sendiri, meskipun struktur intern ini di masa lampau atau masa kini dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar negeri. Oleh karena itu, subyek yang perlu dibangun adalah “bangsa” atau “rakyat dalam suatu negara” atau negara-negara yang termasuk kawasan Amerika Latin. Dalam menghadapi tantangan pembangunan maka konsep negara atau bangsa ini perlu dijadikan landasan untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan yang diperlukan untuk menentukan sikap terhadap dunia ekstern.

Meskipun mazhab ketergantungan ini mula-mula dikembangkan di Amerika Latin, namun beberapa ekonom dan ilmuwan sosial yang berasal dari kawasan-kawasan lain yang keadaan ekonominya masih terbelakang telah berusaha pula untuk menerangkan keterbelakangan kawasan tersebut dengan menggunakan kerangka analisis teori ketergantungan. Misalnya Samir Amin untuk kawasan Afrika, Thomas Neiskopf dan Bharat Jhunjhunwala di Asia, dan Sritua Arief dan Adi Sasono di Indonesia.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa, menurut teori ini, tergabungnya secara paksa (forced incorporated) daerah-daerah pinggiran ke dalam sistem ekonomi kapitalisme dunia merupakan satu-satunya sebab dari keterbelakangan (underdeveloped) negara-negara sedang berkembang sekarang ini. Dengan demikian implikasi dan kesimpulan tersebut adalah bahwa tanpa kolonialisme dan integrasi ke dalam sistem ekonomi kapitalisme dunia, negara-negara sedang berkembang sekarang ini sudah berhasil mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan sangat, mungkin sudah dapat mengembangkan industri-industri pengolahan (manufacture) mereka atas usaha dan kekuatan mereka sendiri.

Pada umumnya para sejarawan dan para ekonom maupun ilmuwan sosial yang menggunakan teori ketergantungan untuk menerangkan keterbelakangan negara-negara sedang berkembang serta menuding kolonialisme sebagai penyebab utama dari ketergantungan tersebut, cenderung untuk mengidealkan masyarakat-masyarakat pro-kolonial. Sering efisiensi administratif negara-negara pra kolonial terlampau dilebih-lebihkan untuk menekankan kemungkinan yang sebenarnya terbuka bagi negara-negara tersebut untuk mengalami suatu transisi ke kapitalisme borjuis yang serupa yang telah terjadi di Eropa Barat. Namun hal ini tidak terjadi di masyarakat-masyarakat kolonial karena penetrasi dan kolonialisme Barat.

Selain itu, teori ketergantungan pada umumnya juga mengabaikan faktor-faktor intern, seperti struktur sosial-budaya dan pola perilaku masyarakat-masyarakat prakolonial itu. Dengan menyalahkan kolonialisme dan neo-kolonialisme Barat sebagai faktor utama yang bertanggung jawab atas keterbelakangan daerah-daerah pinggiran tersebut dan atas masalah-masalah besar yang merintangi pembangunan daerah-daerah tersebut, maka struktur sosial-budaya masyarakat-masyarakat prakolonial ini sebagai suatu faktor penyebab penting dari keterbelakangan mereka rupanya kurang diperhatikan oleh penganut teori ketergantungan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: