Teori Klasik Tentang Pertubuhan Dan Pembangunan Ekonomi

Oleh:

Endiarjati Dewandaru Sadono

Ada empat pendekatan utama yang digunakan untuk menjelaskan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, yaitu :

  1. Model tahap pertumbuhan linier
  2. Teori dan pola perubahan struktural
  3. Revolusi ketergantungan internasional
  4. Kontra-revolusi neoklasik, pasar bebas

 

Model Pertumbuhan Tahap Linier

Tahap Pertumbuhan Rostow

Pendukung paling lantang dan berpengaruh terhadap model tahap pertumbuhan dalam pembangunan adalah sejarawan ekonomi Amerika, Walt W. Rostow. Menurut Rostow, transisi dari terbelakang menuju berkembang dapat digambarkan dalam serangkaian tahap yang harus dilalui oleh semua negara. Semua negara maju sudah melewati tahap lepas landas menjadi pertumbuhan mandiri, dan negara-negara terbelakang yang masih dalam tahap prasyarat atau masyarakat tradisional hanya perlu mengikuti seperangkat aturan pembangunan untuk lepas landas dan pada gilirannya menuju pertumbuhan ekonomi mandiri. Salah satu strategi utama pembangunan yang diperlukan untuk lepas landas adalah mobilisasi tabungan domestik dan asing supaya menghasilkan investasi yang cukup untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Model Pertumbuhan Harrord-Domar

Teori pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar secara sederhana menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan PDB (∆Y/Y) ditentukan oleh rasio tabungan bersih nasional (s) dan rasio modal-output nasional (k) dan dapat dituliskan seperti berikut :

 

Persamaan diatas dapat dinyatakan juga dalam tabungan kotor, sehingga menjadi :

 

dimana δ adalah tingkat penyusutan modal.

Untuk tumbuh, suatu perekonomian harus menabung dan berinvestasi pada proporsi tertentu dari PDB mereka. Semakin banyak mereka bisa menabung dan berinvestasi, maka semakin cepat mereka dapat tumbuh. Tetapi, tingkat aktual dimana mereka dapat tumbuh untuk setiap tingkat tabungan dan investasi dapat diukur dengan kebalikan dari rasio modal-output (k) karena invers ini (1/k) adalah rasio output-modal atau output-invetasi. Oleh karena itu, mengalikan tingkat investasi baru (s=I/Y) dengan produktivitasnya (1/k) akan memberikan tingkat dimana pendapatan nasional atau PDB meningkat.

Selain investasi, dua komponen lain yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan angkatan kerja dan perkembangan teknologi. Dalam konteks model Harrord-Domar, pertumbuhan angkatan kerja tidak dijelaskan secara eksplisit. Hal ini karena tenaga kerja diasumsikan berlimpah di negara berkembang dan dapat dipekerjakan sesuai dengan proporsi yang diperlukan untuk investasi modal. Secara umum, perkembangan teknologi dinyatakan dalam model Harrord-Domar sebagai penurunan rasio modal-output yang memberikan pertumbuhan yang lebih tinggi pada tingkat investasi tertentu.

Mekanisme pertumbuhan ekonomi dan pembangunan hanyalah masalah investasi dan tabungan nasional. Kendala utama atau kendala pembangunan, menurut teori ini adalah tingkat pembentukan modal baru yang relatif rendah di negara-negara miskin. Jadi, pendekatan tahap kendala pembangunan menjadi dasar pemikiran dan alat oportunistik untuk menjustifikasi transfer bantuan teknis dan modal yang besar dari negara berkembang ke negara terbelakang.

Sayangnya, mekanisme pembangunan yang diwujudkan dalam teori tahap pertumbuhan tidak selalu bekerja. Dan alasan mendasar mereka tidak bekerja bukan karena tabungan dan investasi lebih banyak bukanlah syarat mutlak untuk tingkat percepatan pertumbuhan ekonomi tetapi lebih karena bukan syarat cukup. Namun dalam banyak kasus mereka memiliki kekurangan, yaitu kurangnya faktor pelengkap seperti kompetensi manajerial, tenaga kerja terampil, serta kemampian untuk merencanakan dan mengelola berbagai macam proyek pembangunan.

 

Model Perubahan Struktural

Teori Perubahan Struktural berfokus pada mekanisme dimana perekonomian terbelakang mengubah struktur ekonomi domestik mereka yang menekankan pada pertanian tradisonal menuju perekonomian yang lebih modern, lebih urban, serta industri manufaktur dan jasa yang lebih beragam.

Teori Pembangunan Lewis

Model dua sektor Lewis menjadi teori umum dari proses pembangunan dalam surplus tenaga kerja di negara-negara dunia ketiga selama tahun 1960-an hingga awal 1970-an. Dalam model Lewis, perekonomian terbelakang terdiri dari dua sektor, yaitu :

  1. Tradisional; kelebihan jumlah penduduk di sektor pedesaan subsisten yang ditandai dengan produktivitas marjinal tenaga kerja nol
  2. Perkotaan modern dengan produktivitas tinggi; dimana tenaga kerja dari sektor subsisten secara bertahap dialihkan

Fokus utama dari model ini adalah pada proses transfer tenaga kerja serta pertumbuhan output dan kesempatan kerja di sektor modern. Transfer tenaga kerja dan pertumbuhan lapangan kerja di sektor modern disebabkan oleh ekspansi output di sektor tersebut. Kecepatan ekspansi tersebut ditentukan oleh tingkat investasi industri dan akumulasi modal di sektor modern. Investasi tersebut dimungkinkan oleh kelebihan keuntungan atas upah di sektor modern dengan asumsi kapitalis akan menginvestasikan kembali semua keuntungan mereka. Lewis mengasumsikan bahwa tingkat upah di sektor industri perkotaan adalah konstan dan ditentukan oleh premi yang diberikan melalui rata-rata tingkat upah tetap subsisten di sektor pertanian tradisional. Pada upah perkotaan yang konstan, kurva penawaran tenaga kerja pedesaan menuju sektor modern dianggap elastis sempurna.

Proses pertumbuhan mandiri dan perluasan lapangan kerja di sektor modern diasumsikan terur berlanjut hingga surplus tenaga kerja pedesaan diserap di sektor industri baru. Setelah itu, pekerja tambahan dapat ditarik dari sektor pertanian dengan biaya lebih tinggi dari produksi pangan yang hilang karena rasio tenaga kerja terhadap tanah menurun, sehingga produk marjinal tenaga kerja pedesaan tidak nol lagi. Dengan demikian, kurva penawaran tenaga kerja berslope positif sebagai akibat dari upah dan pekerjaan yang terus tumbuh di sektor modern. Transformasi struktural dalam perekonomian akan terjadi, dengan bergesernya keseimbangan kegiatan ekonomi dari pedesaan tradisional menuju industri perkotaan modern.

Kritik untuk Model Lewis :

  1. Model ini mengasumsikan bahwa tingkat transfer tenaga kerja dan perluasan lapangan kerja di sektor modern proporsional terhadap tingkat akumulasi modal di sektor modern. Tetapi bagaimana jika keuntungan kapitalis diinvestasikan kembali dalam penghematan peralatan modal tenaga kerja yang lebih canggih, bukan hanya menggandakan modal yang ada ?
  2. Gagasan bahwa surplus tenaga kerja ada di pedesaan sementara ada kesempatan kerja penuh di daerah perkotaan. Sebagian besar penelitian masa kini menunjukkan bahwa ada sedikit surplus tenaga kerja di pedesaan. Ada pengecualian untuk musiman dan geografis pada aturan ini, tetapi pada umumnya, ekonom pembangunan saat ini sepakat bahwa asumsi surplus pedesaan Lewis umumnya tidak valid
  3. Gagasan bahwa pasar tenaga kerja di sektor modern yang kompetitif menjamin kelangsungan upah riil di perkotaan konstan sampai ke titik dimana surplus penawaran tenaga kerja pedesaan habis
  4. Masalah terakhir dari Model Lewis adalah asumsi hasil yang semakin berkurang di sektor industri modern

 

Revolusi Ketergantungan Internasional

Model Ketergantungan Internasional melihat negara-negara berkembang seperti dilanda kekakuan ekonomi, politik dan institusional, baik domestik maupun internasional, dan terjebak dalam hubungan ketergantungan dan dominasi dengan negara-negara maju.

Model Ketergantungan Neokolonial

Model Ketergantungan Neokolonial merupakan perkembangan tidak langsung dari pemikiran Marxis. Model ini menghubungkan keberadaan dan kelangsungan dari keterbelakangan evolusi sejarah dari sistem kapitalis internasional dengan hubungan negara kaya-negara maju yang sangat tidak merata.

Singkatnya, neo-Marxis adalah pandangan Neokolonial yang mengaitkan sebagian besar kemiskinan di negara berkembang dengan keberadaan dan kebijakan negara-negara industri kapitalis di belahan bumi utara dan ekstensi mereka dalam bentuk elit kecil tapi kuat atau kelompok komprador di negara-negara kurang berkembang. Keterbelakangan dilihat sebagai fenomena eksternal, berbeda dengan penekanan teori tahap linier dan perubahan struktural pada kendala internal, seperti  tabungan dan investasi yang tidak memadai atau kurangnya pendidikan dan keterampilan. Oleh karena itu, perjuangan revolusioner atau setidaknya restrukturisasi besar dari sistem kapitalis dunia diperlukan untuk membebaskan negara-negara berkembang dari ketergantungan langsung dan tidak langsung terhadap penguasaan ekonomi para penindas mereka dan negara maju.

Model Paradigma Yang Salah

Pendekatan Ketergantungan Internasional kedua dan kurang radikal dalam pembangunan adalah model paradigma yang salah. Model ini menghubungkan negara terbelakang dengan saran yang salah dan tidak pantas yang diberikan oleh pihak bermaksud baik, tetapi kurang informasi, bias dan penasihat ahli etnosentris internasional dari lembaga bantuan di negara berkembang dan organisasi donor multinasional. Para ahli menawarkan model yang kompleks, tetapi akhirnya menyesatkan pembangunan yang mengakibatkan sering munculnya kebijakan yang tidak pantas atau tidak benar.

Tesis Pembangunan Dualistik

Dualisme mewakili keberadaan, kegigihan yang kuat dan divergensi yang meningkat antara negara maju dan miskin, masyarakat kaya dan miskin dalam berbagai level. Konsep dualisme mencakup empat argumen utama :

  1. Pihak yang superior dan pihak yang inferior dalam berbagai kondisi dapat hidup berdampingan dalam ruang tertentu
  2. Kekayaan dan kemiskinan internasional yang hidup berdampingan bukan hanya fenomena sejarah yang akan diperbaiki dalam kurun waktu tertentu. Meskipun teori tahap pertumbuhan dan model perubahan struktural secara implisit membuat asumsi seperti itu, pendukung tesis pembangunan dualistik dan fakta bahwa ketidaksetaraan internasional terus berkembang membuat mereka membantah asumsi tersebut
  3. Derajat superioritas atau inferioritas tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang, tetapi justru memiliki kecenderungan untuk meningkat
  4. Saling keterkaitan antara unsur-unsur superior dan inferior membuat keberadaan elemen superior tidak berarti apa-apa untuk menarik elemen inferior

Kontra-revolusi Neoklasik : Fundamentalisme Pasar

Model Statis : Pendekatan Pasar Bebas, Pilihan Publik dan Pasar Yang Ramah

Argumen utama dari kontrarevolusi neoklasik adalah negara terbelakang merupakan hasil dari alokasi sumber daya yang miskin karena kebijakan harga yang salah dan intervensi pemerintah terlalu banyak. Kaum neoliberal berpendapat bahwa dengan mengizinkan pasar bebas yang kompetitif untuk berkembang, privatisasi BUMN, mempromosikan perdagangan bebas dan perluasan ekspor, menyambut investor dari negara-negara maju serta menghilangkan sejumlah peraturan pemerintah dan distorsi harga di pasar finansial, produk dan faktor produksi, maka akan mendorong efisiensi ekonomi dan pertumbuhan ekonomi. Berlawanan denggan teori ketergantungan, kelompok kontrarevolusioner neoklasik berpendapat bahwa negara-negara dunia ketiga terbelakang karena korupsi, inefisiensi dan kurangnya insentif ekonomi yang menembus negara-negara berkembang. Yang dibutuhkan hanyalah soal mempromosikan pasar bebas dan laissez-faire dalam konteks pemerintah yang memungkinkan keajaiban pasar dan tangan tak terlihat dari harga pasar untuk memandu alokasi sumber daya dan mendorong pembangunan ekonomi.

Kontrarevolusi neoklasik dapat dibagi menjadi tiga pendekatan, yaitu :

  1. Pendekatan pasar bebas

Analisis pasar bebas berpendapat bahwa pasar saja sudah efisien, pasar tenaga kerja menganggap industri baru dengan cara yang tepat, produsen paling tahu apa yang akan diproduksi dan bagaimana memproduksinya secara efisien serta produk dan harga faktor produksi mencerminkan nilai kelangkaan barang dan sumber daya sekarang dan di masa depan.

  1. Pendekatan pilihan publik

Pendekatan pilihan publik (pendekatan ekonomi politik baru), melangkah lebih jauh untuk menyatakan bahwa pemerintah dapat melakukan apapun yang benar. Hal ini karena teori pilihan publik mengasumiskan bahwa politisi, birokrat, warga negara dan negara bertindak semata-mata untuk kepentingannya sendiri dengan menggunakan kekuasaan dan kewenangan pemerintah. Hasil akhirnya tidak hanya kesalahan alokasi sumber daya, tetapi juga kebebasan individu yang semakin berkurang. Kesimpulannya adalah pemerintah yang minimal adalah pemerintah yang terbaik.

  1. Pendekatan pasar yang ramah

Pendekatan pasar yang ramah mengakui bahwa ada banyak ketidaksempurnaan dalam produk LDC dan pasar faktor produksi, serta pemerintah memiliki peran penting dalam memfasilitasi operasi pasar melalui intervensi nonselektif. Pendekatan ini juga berbeda dengan pendekatan pasar bebas dan pilihan publik dari segi pemikiran yang menerima gagasan bahwa adanya kegagalan pasar yang lebih luas di negara-negara berkembang, seperti koordinasi investasi dan hasil lingkungan.

Teori Pertumbuhan Neoklasik Tradisional

Model pertumbuhan neoklasik Solow memperluas formulasi Harrod-Domar dengan menambahkan faktor kedua, yaitu tenaga kerja dan memperkenalkan teknologi sebagai variabel independen ketiga dalam persamaan pertumbuhan. Model pertumbuhan neoklasik Solow menunjukkan hasil yang menurun untuk tenaga kerja dan modal secara terpisah dan hasil yang konstan untuk kedua faktor secara bersama-sama. Kemajuan teknologi menjadi faktor residu yang menjelaskan pertumbuhan jangka panjang, dan tingkat ini diasumsikan oleh Solow dan teori-teori pertumbuhan neoklasik lainnya ditentukan variabel eksogen. Penulisan standar model pertumbuhan neoklasik Solow mengunakan fungsi produksi agregat dimana :

 

dimana :

Y = produk domestik bruto (PDB)

K = persediaan modal

L = tenaga kerja

A = produktivitas tenaga kerja yang tumbuh pada suatu tingkat eksogen

Menurut teori pertumbuhan neoklasik tradisional, hasil pertumbuhan output dipengaruhi oleh satu atau lebih dari tiga faktor berikut :

  1. Peningkatan kualitas dan jumlah tenaga kerja
  2. Peningkatan modal
  3. Perbaikan dalam teknologi

Ekonomi tertutup dengan tingkat tabungan rendah tumbuh lebih lambat dalam jangka pendek dibandingkan dengan tingkat tabungan yang lebih tinggi dan cenderung untuk menurunkan pendapatan per kapita. Ekonomi terbuka memusatkan pendapatan pada tingkat arus modal yang lebih tinggi dari negara kaya menuju negara miskin yang memiliki rasio modal kerja yang lebih rendah dan pengembalian investasi yang lebih tinggi.

 

Kesimpulan

Singkatnya, masing-masing pendekatan yang digunakan untuk memahami pembangunan memiliki sesuatu yang dapat ditawarkan. Artinya, setiap pendekatan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

 

Sumber

Todaro, Michael P. and Smith, Stephen C. (2009). Economic Development. Tenth Edition. Harlow. Addison-Wesley.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: