Supply and Demand

Ekonomi Pengantar

Supply and Demand

Oleh : Lea Brahmantia

Masuk ke pembahasan masalah supply dan demand, berikut ada sebuah kasus yang cukup menarik untuk kita bahas. Teh Botol Sosro punya slogan “Apapun makanannya minumnya Teh Botol Sosro”. Dari pernyataan tersebut muncul pertanyaan, apa yang akan terjadi jika harga Teh Botol Sosro naik dan jika turun?

Ditinjau dari segi hukum penawaran :

Dalam kurva penawaran di samping, dapat terlihat jelas bahwa dalam kurva tersebut harga dan kuantitas berbanding lurus, apabila harga suatu barang naik maka secara otomatis produsen akan meningkatkan jumlah barang produksinya / jumlah barang yang ditawarkan. Misal harga teh botol sosro naik, maka produsen akan menambah jumlah teh botol sosro yang ditawarkan agar memperoleh keuntungan yang lebih dari kenaikan harga tersebut. Namun, apabila harga teh botol sosro turun maka produsen akan segera mengurangi jumlah produksi teh tersebut dan beralih untuk memproduksi produk / barang lainnya yang saat itu harganya sedang mengalami kenaikan. Mengapa? Karena perilaku produsen memang tidak dapat dipisahkan dengan orientasinya terhadap laba / keuntungan.

Ditinjau dari segi hukum permintaan :

Dalam gambar disamping juga dapat kita simpulkan bahwa dalam kurva permintaan hubungan antara harga dan kuantitas adalah berbanding terbalik. Apabila harga suatu barang naik, maka konsumen cenderung membeli barang dalam jumlah yang sedikit. Sebaliknya apabila harga suatu barang turun, maka pembeli cenderung membeli barang tersebut dalam jumlah yang banyak. Contoh langsung saat harga teh botol sosro naik, maka permintaan atas barang tersebut berkurang bahkan bisa saja konsumen beralih ke produk lain yang serupa (apabila keadaan barang tersebut elastis) seperti teh kotak, teh freshtea, ataupun fruittea yang mana rasanya memang tidak jauh berbeda. Tetapi, jika harga teh botol sosro turun, dengan cepat permintaan atas barang tersebut bertambah. Di samping itu turunnya harga teh botol sosro juga akan merangsang konsumen lama untuk pembelian yang lebih banyak. Karena perilaku konsumen memang selalu berorientasi dengan asumsi jika bisa mendapatkan barang yang banyak dengan harga murah kenapa tidak?

Terlepas dari kedua tinjauan pokok di atas, kita tahu bahwa permintaan terhadap suatu barang juga masih memiliki faktor – faktor lain yang berpengaruh, salah satunya yaitu selera konsumen. Menurut saya, selera konsumen memang yang paling mempengaruhi hasrat konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang. Apabila kita terapkan dalam kasus teh botol sosro ini, seandainya selera konsumen akan teh tersebut sudah paten atau konsumen sudah tidak mau mengganti produk dan sudah dapat dikatakan percaya dengan slogan, kualitas, dan rasa dari teh tersebut. Bisa saja dengan berapapun pendapatan konsumen dan tidak peduli dengan harga teh tersebut walaupun dalam keadaan harga tinggi konsumen tetap membelinya dalam jumlah yang diinginkan. Karena dalam keadaan seperti ini orientasi konsumen yaitu memenuhi kepuasan pribadinya akan suatu barang yang memang sudah menjadi kebiasaan untuk konsumen tersebut.

Peran pemerintah dalam mempengaruhi supply dan demand

  1. Menentukan Harga Eceran
    1. Harga Eceran Tertinggi : untuk melindungi konsumen agar konsumen tetap dapat membeli dengan harga maksimal yang telah ditentukan pemerintah dengan tidak menjadi beban bagi konsumen. Karena jika tidak dibatasi dengan HET (Harga Eceran Tertinggi) produsen dapat mengeksploitasi harga semahal mungkin.

Ex : baju dijual dengan harga maksimal Rp 50.000, dalam hal ini produsen sudah tidak dapat menaikkan harga lebih dari Rp 50.000, maka semahal – mahalnya harga baju tersebut konsumen tetap tidak merasa dibohongi oleh produsen.

  1. Harga Eceran Terendah : untuk melindungi produsen karena dengan begitu produsen tidak khawatir dengan harga paling rendah yang akan ditawarkan oleh konsumen sebab telah ada batasan harga yang telah ditetapkan pemerintah.

Ex : baju dijual dengan harga minimal Rp 30.000, dalam hal tersebut produsen tetap tidak merasa dirugikan karena tidak lebih rendah dari biaya produksi dan konsumen sudah tidak dapat menawar sampai di bawah harga yang telah ditentukan.

Dengan dua kebijakan tersebut, konsumen dan produsen sama – sama berada dalam keadaan yang saling menguntungkan, pembeli dan penjual nyaman dengan adanya aturan harga yang telah ditentukan. Walau produsen tidak dapat mengambil untung setinggi mungkin dan konsumen tidak dapat memperoleh barang dengan harga semurah mungkin setidaknya diantara keduanya tidak ada yang merasa dibohongi dan mereka pun tidak khawatir dalam melakukan transaksi. Sehingga keadaan supply dan demand cenderung stabil. Keseimbangan pasar pun terjaga.

Referensi : Soeratno. 2003. Ekonomi Mikro Pengantar / Soeratno, Edisi 2, Cetakan Pertama. Yogyakarta

  1. Pengurangan pajak penghasilan akan menambah daya beli masyarakat

Karena uang yang seharusnya untuk membayar pajak dapat dialihkan untuk keperluan konsumsi lainnya. Jika daya beli masyarakat meningkat à maka permintaan akan jumlah suatu barang akan bertambah à produsen akan memproduksi barang dengan jumlah yang besar à jika barang yang beredar banyak harga cenderung murah. Dengan analogi di atas maka dapat kita simpulkan akan adanya keserasian gerak antara produsen dan konsumen yang akan menguntungkan satu sama lainnya.

Sumber : http://junaidipiscesguru.blogspot.com/2010/06/kebijakan-ekonomi-makro.html

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: