Pengertian Pembangunan

oleh: Bram Brahmanto

Pertumbuhan dan Pembangunan

Bangun di pagi hari merupakan langkah awal permulaan bagi kebanyakan orang dalam memulai rutinitas kesehariannya. Sebagian dari mereka lantas bersiap untuk memenuhi tujuannya hari itu, misalnya seorang dokter yang akan beraktivitas sepanjang harinya di meja operasi, ataupun seorang mahasiswa yang akan menempati bangku kuliahnya untuk mendapatkan proses transfer ilmu dari dosennya. Inilah fenomena yang bisa dikategorikan sebagai hal yang ideal, dimana mengenyam pendidikan yang tinggi untuk bekerja di posisi dan peran yang strategis. Pada akhirnya pendapatan menjadi pintu bagi lahirnya kesejahteraan. Lantas apakah kesejahteraan rigid seperti itu. “hanya bisa didapat dengan pendapatan yang tinggi”? Lalu bagaimana dengan sebagian dari mereka yang tidak seberuntung mahasiswa dan dokter tersebut, apakah mereka merasa sejahtera dengan kondisi pendapatan rendah, tingkat pendidikan rendah, dan juga kesehatan yang buruk pula? Di dalam buku Adam Smith. The Wealth of  Nation, tersirat nilai bahwa kesejahteraan rakyat yang hakiki dapat tercapai apabila mereka mampu menjadikan negaranya wealthy. Artinya secara konvensional kesejahteraan merupakan buah dari pendapatan. Dari sini negara-negara saling bersaing mendapatkan kesejahteraan tersebut dengan upaya “mengkayakan” negaranya. Karena hanya dengan menjadi kaya, negara akan mendapatkan posisi prestige-nya.

Persepsi diatas yang coba dibangun oleh kebanyakan negara. Pertumbuhan ekonomi dijadikan ciri khas dan tolak ukur kemajuan rakyatnya. Tingkat konsumsi dan investasi nasional yang tinggi, ekspor produk yang membanjiri pasar global, laju inflasi yang terkendali, serta nilai tukar rupiah yang menguat merupakan destinasi tahunan kebanyakan negara, khususnya Indonesia. Upaya manifestasi posisi makro seperti ini seringkali meninggalkan esensi sesungguhnya dari sebuah pertumbuhan ekonomi. Terlalu fokusnya dalam penciptaan angka-angka yang fantastis mendorong tata cara dan perilaku yang semakin konvensional. Pertumbuhan ekonomi pada hakikatnya dibangun dari sebuah kerangka pembangunan. Apabila dianalogikan dengan gedung, pembangunan dapat diartikan sebagai proses penciptaan gedung, mulai dari pembebasan lahan, peletakkan batu pertama hingga pemasangan tiang-tiang pondasi.

Menurut, Amartya Sen, peraih Nobel Laureate in Economics 1998, “Development can be seen as a process of expanding the real freedoms that people enjoy”. Sen menekankan perbedaan antara orang miskin dan tidak miskin yang terletak pada “capability to function”. Pertumbuhan ekonomi dapat dikatakan tidak “menyentuh” keadaan sesungguhnya dari proses tumbuh dan berkembang. Di sisi lain, pembangunan lebih terkonsentrasi pada

bagaimana meningkatkan taraf kehidupan dan kebebasan dalam menjalaninya. Kemiskinan bukan hanya tentang pendapatan rendah ataupun tingkat kepuasan yang rendah, namun permasalahan dari kemiskinan adalah masalah siapa mereka atau dapatkah mereka menjadi dan apa yang mereka kerjakan atau dapatkah mereka mengerjakan.

Konsep human well-being dengan esensi bagaimana komoditas itu mempunyai peran dalam karakteristik yang dibawanya, menurut Sen dapat diartikan sebagai “functioning”. Sen mengatakan bahwa “functioning’ adalah apa yang dilakukan dan bisa dilakukan orang dengan karakteristik dari komoditas yang mereka miliki. Artinya, kebebasan dalam memilih ataupun kemampuan mengatur hidupnya sendiri merupakan aspek dari pengertian well-being.

Kemudian, Sen mengartikan kapabilitas sebagai pilar dalam menentukan keberhasilan transformasi sebuah karakteristik menjadi “functionings”. Kapabilitas memiliki esensi bahwa kebebasan diciptakan dari kemampuan menkonversi karakteristik menjadi “functionings” dan kemampuan memanfaatkan komoditasnya. Perspektif ini yang kemudian relevan dengan pilar penunjang sejahtera–pendapatan, kesehatan dan pendidikan. Pendapatan merupakan hal yang esensial, namun menkonversi karakteristik komoditas menjadi “functionings” merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari esensi pembangunan.

Pembangunan merupakan kegiatan ekonomi dimana adanya eksistensi dari produksi dan konsumsi yang berkesinambungan menuju taraf pertumbuhan yang potensial. Kehadiran produksi menjawab teori-teori dari Sen, bahwa masyarakat harus mempunyai ”capabilities”  dengan kata lain masyarakat harus mampu menghasilkan produk hasil konversi dari faktor-faktor produksi yang mereka punya. Kemudian nilai tambah yang mereka hasilkan akan menjadi “alat kesenangan” mereka. Potensi pendapatan dari hasil yang mereka produksi akan didayagunakan sedemikian rupa untuk mewujudkan “kesenangan”.  Apa yang mereka konsumsi menjadi jembatan bagi pemenuhan utilitas-utilitas mereka. Pada akhirnya “kesenangan” akan menjadi produk yang dinikmati dari hasil produksi, menghasilkan apa yang dinikmati dan menikmati apa yang dihasilkan.

Tujuan Pembangunan

Untuk mencapai derajat “kesenangan”, pembangunan biasanya harus memenuhi persyaratan esensi inti dari pembangunan itu sendiri. Ketiga esensi inti tersebut antara lain sustenance, self esteem, dan freedom from servitude. Setiap orang harus memenuhi kebutuhan pokoknya terlebih dahulu, seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Inilah sufficient condition dari pembangunan, dimana adanya sustenance yang dimanfaatkan untuk mengkonsumsi ketiga kebutuhan pokok tersebut. Selanjutnya esensi inti yang kedua, self-esteem, didefinisikan sebagai proses to be a person. Untuk menjadi manusia yang utuh, hal yang esensial adalah menjaga identitas dan martabat, menghargai, menghormati, ataupun sebagai sebuah pengakuan. Inilah bagian dari proses penciptaan nilai-nilai kemanusiaan, dimana mentoleransi dan mengakui eksistensi dari setiap nilai-nilai sebagai manusia.

Esensi yang ketiga adalah freedom from servitude, nilai yang berkembang disini bagaimana orang mempunyai kemampuan untuk memilih. Penentuan pilihan merupakan bagian dari preferensi seseorang, dimana pilihan yang dijatuhkan orang merupakan hasil dari kerja logika dan dorongan nafsu. Kombinasi ini yang akan menghasilkan pilihan rasional hasil dari pengaruh internal dan juga eksternal. W. Arthur Lewis menekankan pada pertumbuhan ekonomi dan kebebasan dari perbudakan, dia mengatakan “the advantage of economic growth is not that wealth increases happiness, but that it increases the range of human choice”. Pilihan menjadi komponen esensial yang dapat dikembangkan oleh para pemilik kebebasan.

Terdapat tiga tujuan pembangunan menurut Michael P.Todaro dan Stephen C.Smith dalam bukunya Economic Development: 1) Untuk meningkatkan dan memperluas distribusi dari kebutuhan pokok 2) Untuk mencapai taraf hidup tertentu 3) Untuk memperluas jangkauan ekonomi dan pilihan sosial yang tersedia bagi individual dan negara.

Tujuan yang pertama menakankan pada manifestasi  keberlangsungan distribusi sandang, pangan, dan papan yang merata. Kemudian adanya penyediaan jaminan kesehatan sebagai upaya menjamin pembangunan “on the track”. Keberadaan perlindungan HAM  juga diperlukan sebagai langkah antisipasi dan penanggulangan dari pembangunan yang “out of track”.

 

Pencapaian taraf  hidup yang lebih baik menjadi fokus dari hasil distribusi yang baik. Indikator dari taraf hidup yang ideal antara lain adanya pendapatan yang tinggi, banyaknya lapangan pekerjaan, tingkat pendidikan yang lebih baik, perhatian yang besar terhadap nilai-nilai sosial dan budaya. Indikator ini dibangun bukan hanya untuk menghasilkan produk yang berorientasi materil saja, tetapi produk yang menghasilkan individu-individu yang lebih baik serta harga diri sebuah bangsa.

Perluasan jangkauan ekonomi dan penyediaan pilihan-pilihan sosial pada esensinya terletak pada penjaminan hak-hak kebebasan orang untuk berkembang sesuai pilihannya. Hilangnya ketergantungan antar masyarakat ataupun ketergantungan pada pemerintah menjadi produk yang ingin dicapai dalam konteks bermasyarakat dan bernegara. Pada akhirnya lahir masyarakat madani yang berpilar pada kemandirian dalam berekonomi.

Pembangunan di Indonesia

Destinasi dari pembangunan Indonesia sebenarnya termaktub dalam cita-cita nasional Indonesia dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam perjanjian luhur pendiri bangsa ini disebutkan bahwa cita-cita nasional Indonesia antara lain: 1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia 2) Memajukan kesejahteraan umum 3) Mencerdaskan kehidupan bangsa 4) Ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Menilik pada keadaan geografis, seperti inilah track panjang dan berliku yang berhasil dibangun oleh para pendiri bangsa di lahan republik ini. Pemerintahan terus silih berganti menggantikan gerbong-gerbong pemerintahan yang sudah tua dan tidak produktif. Terus melaju di track berliku untuk menuju satu tujuan: “Kota Adil dan Makmur”. Untuk mencapai “kota” tersebut sebenarnya hanya ada dua komponen yang akan mempengaruhi, eksistensi track dan gerbong pemerintah. Kedua komponen ini secara konsisten harus dijaga agar menjamin kelancaran selama diperjalanan. Track tidak boleh dirusak, karena sebaik apapun gerbong apabila track yang digunakan rusak maka gerbong akan keluar track yang justru akan membahayakan keselamatan rakyat di gerbong tersebut. Begitupula dengan kesehatan gerbong, gerbong pemerintah yang digunakan juga harus dalam keadaan siap jalan, sebaik apapun track yang ada apabila tidak dapat dilalui dengan baik oleh gerbong pemerintah sama saja akan mencelakakan seluruh isi gerbong.

Pada gerbong pemerintahan saat ini, esensi dari pembangunan belum seutuhnya berorientasi pada manifestasi cita-cita nasional. Masih banyaknya pelanggaran HAM dan belum terselesaikannya masalah HAM menjadi bukti bahwa Komisi Nasional HAM belum mampu menjadi komponen negara yang capable dalam rangka melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Di luar negeri malahan kita menyaksikan tenaga kerja kita di eksploitasi oleh negara lain tanpa di dukung sepenuhnya oleh pemerintahan Indonesia.

Bila menilik pada kedua contoh permasalahan kompleks diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hal ini terjadi atas perkara motif dan lata rbelakang ekonomi. Kurang sempurnanya pemaknaan atas pembangunan ekonomi merupakan cikal bakal terjadinya “growth without develop”. Keadaan dimana pertumbuhan ekonomi ternyata tidak menyentuh pembangunan dari segi humanisme. Sehingga angka-angka konvensional yang berhasil dicapai tergolong kurang mampu menunjukkan potensi sebenarnya dalam hal kehidupan sosial.

Tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 1% seharusnya mampu menyerap tenaga kerja sebesar 450.000 tenaga kerja. Artinya, pada tahun 2011, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar 6.5%, pemerintah mampu menyerap tenaga kerja sebesar 2.92 juta tenaga kerja dari total angkatan kerja sebesar 120.4 juta tenaga kerja. Namun kenyataannya, pada tahun 2011 hanya menyerap 1.5 juta tenaga kerja atau hanya mampu memenuhi porsi 50% dari potensi penyerapan tenaga kerja yang seharusnya.

 

Tingkat pengangguran di Indonesia perlahan mulai turun dari tahun ke tahun. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan penurunan pengangguran pada  Februari 2012 dibanding Februari 2011 sebesar 0.51%. Pada Februari 2011 tingkat pengangguran sebesar 8.12% sedangkan pada bulan Februari 2012 tingkat pengangguran menunjukkan angka 7.61. Dalam angka sesungguhnya, pengangguran di Indonesia menurun sebesar 510 ribu orang pada Februari 2012 dibanding Februari 2011.

Trend positif ini seharusnya mampu pemerintah jaga dengan terus menyediakan lapangan pekerjaan yang mampu mendorong tingkat pendapatan mereka. Namun per Februari 2012, sebanyak 49.21% atau 55.5 juta orang, lapangan pekerjaan masih dihuni oleh pekerja dengan jenjang pendidikan SD kebawah. Sedangkan pekerja dengan pendidikan universitas hanya sebesar 6.43% atau sebesar 7.2 juta orang.  Artinya, masih banyak orang yang berpendidikan rendah di negeri ini. Dari sini dapat dilihat bahwa pembangunan manusia kurang diperhatikan. Apabila hal ini terus dibiarkan, dengan terus mempertahankan tingkat pendidikan rendah di dunia kerja, maka akan berdampak pada penurunan daya saing nasional terhadap global dari segi pengetahuan dan teknologi. Tentu ini ancaman nyata yang bersembunyi di dalam turunnya angka pengangguran di Indonesia.

Human Development Index

Year

Indonesia

Medium human development

East Asia and the Pacific

World

2011

0.617

0.630

0.671

0.682

2010

0.613

0.625

0.666

0.679

2009

0.607

0.618

0.658

0.676

2008

0.598

0.612

0.651

0.674

2007

0.591

0.605

0.642

0.670

2006

0.579

0.595

0.631

0.664

2005

0.572

0.587

0.622

0.660

2000

0.543

0.548

0.581

0.634

1995

0.527

0.517

0.544

0.613

1990

0.481

0.480

0.498

0.594

1985

0.460

0.450

0.463

0.576

1980

0.423

0.420

0.428

0.558

Sumber: International Human Development Indicators

Dari data diatas terlihat bahwa adanya peningkatan kontinyu kualitas manusia di Indonesia di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa gerbong pemerintah yang silih berganti sukses memberikan perubahan yang lebih baik bagi kualitas manusia di negeri ini. Namun, peningkatan kualitas tiap tahun saja dirasa kurang cukup. Apabila dibandingkan dengan rata-rata kualitas manusia di dunia, kualitas manusia selalu berada di bawah rata-rata. Tentu ini sebuah ancaman bagi keberlangsungan negara ini, mengingat tingkat persaingan kita yang tidak baik bila dibandingkan dengan dunia.

Pada tahun 2000, gap Human Development Index antara Indonesia dengan negara-negara Asia Timur dan Pasifik sangat dalam. Bahkan indeks ini menunjukkan bahwa Indonesia dikategorikan sebagai negara low human development.

HDI, Health, Education, Income

Health

Indicator Value
Expenditure on health, public (% of GDP) (%) 1.2
Under-five mortality rate (per 1,000 live births) 39
Life expectancy at birth (years) 69.4
Health index 0.779

Education

Indicator Value
Public expenditure on education (% of GDP) (%) 2.8
Expected Years of Schooling (of children) (years) 13.2
Adult literacy rate, both sexes (% aged 15 and above) 92.2
Mean years of schooling (of adults) (years) 5.8
Education index 0.584
Combined gross enrolment in education (both sexes) (%) 77.6

Dengan status negara low human development, mengindikasikan bahwa tingkat pendapatan, kesehatan dan pendidikan Indonesia masih berada di bawah rata-rata. Padahal esensi dari pertumbuhan ekonomi adalah pembangunan manusia. Masalah pemerataan pendapatan menjadi isu yang tidak dapat dilepaskan dari Human Development Index. Karena tidak meratanya pemerataan pendapatan akan mengakibatkan kesenjangan sosial yang tentunya akan mengancam keberadaan suatu negara. Kesenjangan sosial dicirikan dengan munculnya tindak kriminalitas ataupun ketegangan antarkelompok. Keadaan ini secara nyata akan menganggu kekuatan persatuan nasional.

Gini rates yang merupakan indeks pemerataan pendapatan menunjukkan tingkat pemerataan pendapatan di Indonesia pada tahun 2011 sebesar 0.41. Terjadi peningkatan dari tahun 2010 yang sebesar 0.38 dan pada tahun 2004 yang masih 0.33. Artinya dengan asumsi indeks 0 merupakan angka pendapatan yang equal, maka dengan indeks 0.41, Indonesia mengalami tingkat kesenjangan pendapatan yang tinggi.

Keadaan yang demikian ini menunjukkan bahwa Indonesia terjebak dalam istilah growth without development. Dengan tingkat pertumbuhan ekonomi masuk dalam jajaran 15 negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi, hal ini sungguh ironi bila dibandingkan dengan status low human development yang dimiliki Indonesia.

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa gerbong pemerintah dengan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata belum mampu mengakselerasi perpindahan ekonomi nasional yang hakiki dalam rangka menuju “Kota Adil dan Makmur”. Track yang ditawarkan para pendiri bangsa ternyata sering luput dari pengamatan “masinis” pemerintah. Masih sering keluarnya dari track menunjukkan bahwa pemerintah kurang memperhatikan cita-cita nasional negara Indonesia. Ekonomi seharusnya tumbuh atas dasar kekuatan pembangunan. Tiang-tiang pondasi bangunan seharusnya kokoh berdiri sebelum batu-batu bangunan disusun. Dengan begitu pertumbuhan ekonomi yang dirasakan akan berkisanambungan dan mengena pada aspek-aspek sosial.

Daftar pustaka

http://nasional.kompas.com/read/2012/05/10/00162177/Ekonomi.Tumbuh.6.5.Persen.Seharusnya.Serap.2.92.Juta.Naker

http://hdrstats.undp.org/en/countries/profiles/IDN.html

http://www.indexmundi.com/indonesia/distribution_of_family_income_gini_index.html

http://dds2.bps.go.id/download_file/IP_September_2012.pdf

http://www.indonesiafinancetoday.com/read/33095/Pertumbuhan-Sektor-Jasa-Dorong-Kenaikan-Gini-Ratio

 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: