Entrepreneur dari Berbagai Sudut Pandang

Tulisan ini berisi sudut pandang tiga mahasiswa yang melihat entrepreneur yang masing-masing tulisan bersifat saling melengkapi sehingga untuk kali ini ketiga tulisa ketiga masiswa ini digabungkan menjadi satu tulisan dan tiap tulisan mempunyai bobot nilai yang sama

Topik: Entrepreneur

oleh: Muhammad Wintar, M. Zaenuddin dan Supiandi

Entrepreneurship, Solusi Bagi bangsa Indonesia

oleh: Muhammad Wintar

Secara harfiah, entrepreneur merupakan individu yang memiliki pengendalian tertentu terhadap alat  produksi  dan menghasilkan lebih banyak daripada yang dapat dikonsumsinya atau dijual atau ditukarkan agar memperoleh pendapatan. Istilah entrepreneur  diungkapkan pertama kali oleh seorang ekonom Irlandia, keturunan Perancis (R. Cantillon, 1697-1734). Menurut rumusan awal Cantillon tersebut, entrepreneur  adalah ahlinya mengambil risiko dalam menghasilkan kombinasi baru berbagai produk atau proses atau dalam mengantisipasi pasar atau mengkreasikan tipe organisasi baru. Oleh karena itu, seorang  entrepreneur  adalah  pemimpin suatu industri baru yang bisa menghasilkan perubahan struktural, pertumbuhan ekonomi dan siklus bisnis dengan cara mengkombinasikan ide-ide ekonomi dan psikologi. Bahkan lebih jauh, terkait dengan pembangunan ekonomi, para entrepreneur mampu mengendalikan revolusi dan mentransformasi serta memperbaharui perekonomian dunia. Hal ini karena  entrepreneurship  merupakan esensi  usaha bebas dari kelahiran bisnis baru yang memberikan vitalitas bagi ekonomi global.

Memasuki era Revolusi Industri, para business entrepreneur (sektor bisnis) telah menjadi motor penggerak dalam perubahan-perubahan dunia, tidak hanya dalam lingkup ekonomi dan industri namun juga banyak sektor kehidupan masyarakat. Sementara dalam tiga dekade terakhir, para social entrepreneur banyak berkontribusi pada pembangunan sektor social di masyarakat. Seperti Muhammad Yunus (Grameen Bank), Peter Eiger (Transparency International, Jerman), Alice Tepper-Marlin (Social Accouantability, AS), dan Bill Drayton (Ashoka Foundations, AS). Tampak pula, para business entrepreneur yang semakin intens melakukan program-program pemberdayaan masyarakat. Mereka tidak sekedar melakukan tanggung jawab social (corporate social responsibility) dalam tataran yang sempit, namun banyak yang termotivasi untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dalam lingkup yang luas. Mereka berkiprah dalam beragam program pemberdayaan masyarakat, baik bidang ekonomi, pendidikan dankebudayaan, kesehatan, sarana dan prasarana maupun lingkungan hidup.

Di Indonesia, permasalahan pembangunan yang muncul dari zaman orde lama sampai orde baru masih sama-sama saja. Tetapi, kelemahan nyata dalam pembangunan masa lalu dan saat ini adalah belum berkembangnya para pemimpin daerah-nasional yang memahami nasionalisme dan berjiwa entrepreneur. Kita juga  perlu lebih banyak entrepreneur  yang mampu menjadi  pemimpin  bisnis  skala  nasional dan global yang baik, kuat dan banyak jumlahnya. Kurangnya pemimpin daerah-nasional yang berjiwa dan memahami entrepreneur  serta kurangnya jumlah entrepreneur  nasionalis bidang  industri yang kuat mungkin menjadi salah satu sebab mengapa pemulihan krisis ekonomi Indonesia menjadi sangat lambat-mungkin paling lambat di kawasan Asia dan Asia Tenggara.

Berapa wirausahawan lagi yang dibutuhkan?

Sosiolog David McClelland  menyatakan bahwa suatu negara bisa menjadi makmur apabila ada entrepreneur sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Singapura sudah mencapai 7,2%, padahal pada tahun 2001 hanya sekitar 2,1%. Sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18% dari penduduk atau 400.000-an orang. Itulah alasan kenapa pembangunan di Indonesia selalu memiliki masalah yang jika dilihat relatif sama dari tahun ke tahun. Dan salah satu permasalahan di Indonesia yang berperan penting terhadap pembangunan ialah kurangnya peran seorang entrepreneur dalam membangun bangsa Indonesia.

Innovative Entrepreneur Sebagai Solusi

Kemajuan ekonomi yang luar biasa dari berbagai Negara yang telah mapan, disebabkan oleh inovasi entrepreneur. Semakin banyak entrepreneur dimiliki oleh sebuah Negara,  semakin makmur negara tersebut. Menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur di suatu negara jelas memiliki kaitan dengan kesejahteraan bangsanya sendiri, setidaknya terdapat empat alasan; mengapa perlu dikembangkan innovative entrepreneurship, alasannya, yaitu.

  • Solusi bagi dirinya sendiri
  • Solusi bagi sesamanya
  • Solusi bagi komunitasnya
  • Solusi bagi Negara

Kekhawatiran kita akan masa depan bangsa adalah ketika gagal menciptakan para entrepreneur pencipta lapangan kerja yang mampu mengubah pola pikir menjadi karyawan dibandingkan memiliki kemandirian berusaha yang hanya akan menjadi bangsa pemalas.

Harapan kita di masa depan bertumpu pada para innovative entrepreneur yang smasih berada di bangku sekolah atau perguruan tinggi.  Mereka harus mempersiapkan diri  menjadi entrepreneur baru dalam membangun kehidupannya kelak ketika mereka telah menyelesaikan pendidikannya.

Kini tiba saatnya untuk membangkitkan semangat dan kecakapan innovative entrepreneurship untuk menghasilkan jutaan entrepreneur baru bagi bangsa ini sebagai solusi untuk membantu pemerintah dalam menyikapi keterpurukan ekonomi yang marginal dan sebagai solusi penciptaan lapangan kerja baru. Bukan saatnya lagi sebuah perguruan tinggi hanya mencetak sarjana dan memegang ijazah sebagai sebuah kebanggaan untuk digunakan melamar kiri kanan di semua sektor public office atau public privat, tetapi jauh lebih penting seorang lulusan perguruan tinggi memiliki inovative entrepreneurship.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan perguruan tinggi adalah lebih sebagai pencari kerja (job seeker) daripada pencipta lapangan pekerjaan (job creator). Perguruan tinggi seharusnya mampu mengubah cara pandang  yang sebagian besar alumninya selalu ingin berprofesi sebagai pegawai negeri menjadi wirausaha Perubahan ini harus ditanamkan melalui pendidikan  berwawasan kewirausahaan yang kreatif dan inovatif. Jumlah wirausaha saat ini di Indonesia sekitar 450.000 orang atau sekitar 0,18 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini jauh dari ideal, yakni 2 persen dari jumlah penduduk. Persentase ini kalah jauh dibanding dengan negara tetangga seperti Sangapura yang wirausahanya 7,2 persen dari jumlah penduduk, sedangkan Amerika Serikat 12 persen, dan Malaysia 3 persen (Kompas, 25 Juli 2011 hal. 12)

Ada filosofis yang  mengakar pada masyarakat kita  yang menyebabkan banyak orang tidak termotivasi terjun ke dunia bisnis karena orang tuanya selalu menjadi harapan anaknya untuk bekerja di kantor pemerintahaan atau swasta, bahkan lebih menyedihkan lagi kalimat orang tua “untuk apa sekolah tinggi, jika hanya mau menjadi wiraswasta”. Kenyataannya,  masih banyak yang memandang bahwa profesi wirausaha cukup menjanjikan harapan di masa depan. Hal ini didorong oleh kondisi persaingan di antara pencari kerja yang semakin ketat. Lowongan pekerjaan mulai terasa sempit. ditambah lagi dengan policy zero growth oleh pemerintah dalam bidang kepegawaian. Bahkan berita duka para pencacah ijazah ke kantor instansi pemerintah yang membuka lowongan kerja sangat sedikit bahkan ada instansi pemerintah yang tidak sama sekali menerima calon pegawai negeri tahun ini. Semoga kedepan bangsa ini menjadi bangsa yang mencintai inovative entrepreneurship sebagai  solusi terbaik masa depan.

Referensi :

  1. http://suarapengusaha.com/2012/02/11/memajukan-indonesia-dengan-memperbanyak-entrepreneurship/
  2. Jurnal Membangun Indonesia Melalui Kepemimpinan Entrepreneur Agribisnis, oleh Rachmat Pambudy
  3. http://www.binaswadaya.org/index.php?option=com_content&task=view&id=160&Itemid=38&lang=in_ID
  4. http://pinisi09.wordpress.com/2011/07/31/innovative-entrepreneurship-solusi-masa-depan/

 

Memperbanyak Entreprenuer, Memperkuat Ekonomi Indonesia

oleh: M. Zaenuddin

Entreprenuer itu seperti apa?

Kata entreprenuer merupakan istilah yang berasal dari bahasa Perancis yang berarti between-taker atau go-between. Secara luas entreprenuer adalah seseorang yang memiliki dorongan untuk menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan, disertai dengan modal dan resiko, menerima balas jasa/kepuasan serta kebebasan pribadi atas usahanya. Seseorang yang berjiwa entreprenuer adalah ia berani mengambil resiko dari setiap kegiatan, riset dan penelitiannya dalam rangka membuat produk-produk baru dengan menemukan cara baru, dan ia mendapatkan jawaban baru dari setiap masalah yang muncul disekelilingnya.

Mengapa Indonesia sedikit entreprenuer?

Jika melihat penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa dan merupakan negara berpenduduk terbesar ke-4 didunia, jumlah entreprenuernya belum dapat mengimbangi dengan potensi jumlah penduduknya. Hal tersbut terbukti adanya data yang menunjukkan bahwa jumlah entreprenuer di Indonesia hanya ada sekitar 0,18% dari proporsi jumlah penduduk (rasio 1:83). Jumlah itu masih jauh dari dari negara tetamgga seperti Filipina yang mempunyai rasio jumlah entreprenuer sejumlah 1:63, Korea 1:20, dan  Jepang 1;23 Menurut Sosiolog Daivid McClelland suatu negara akan makmur ketika ada entreprenuer sedikitnya 2% dari jumlah penduduk. Berarti dalam kondisi untuk mencapai standar 2%, Indonesia harus mempunyai sekitar 4.200.000 entreprenuer-entreprenuer baru (Data BPS Juli 2011). Disisi lain memang ironis bila melihat pengangguran sarjana di Indonesia yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Data BPS menunjukkan  jumlahnya sekitar 740.000 pada tahun 2007 dan pada tahun 2009 lebih dari 900.000 sarjana menganggur. Hal ini perlu diwaspadai mengingat setiap tahunnya Indonesia memprodukis 300.000 sarjana dari 2.900 perguruan tinggi. Artinya semakin banyak pengangguran dari kalangan terdidik menjadi fenomena yang semakin mengkhawatirkan, alasannya karena lapangan kerja yang tersedia semakin terbatas.

 Jika kita lihat sumber daya alam Indonesia banyak dan melimpah dari sabang sampai merauke. Indonesia memiliki banyak komoditas baik mineral tambang dan energi tetapi belum mampu mengolahnya. Metode pendidikan kita hanya mendidik menjadi orang yang pintar teori, mengimpor teori-teori dari luar negeri, tetapi disisi lain masih sedikit prakteknya. Teori dan praktek kurang seimbang proporsinya. Contohnya pintar debat atau pintar bikin konsep, tetapi realisasinya belum ada atau kurang nyata. Tanpa kita sadari banyak dari kita yang bermental job-seeker dalam artian bermental karyawan bahkan bermental buruh. Budaya menjadikan keadaan dan menempatkan asumsi bahwa pegawai adalah pekerjaan yang aman dan impian dari orang tua atas masa depan anak-anaknya. Lebih lanjut banyak orang memandang bahwa menjadi seorang entreprenuer akan menjumpai satu hambatan yang besar. Hambatan itu adalah keterbatasan modal.

Ada juga suatu fenomena yang mengatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin rendah keinginan menjadi entreprenuer. Mereka yang berpendidikan tinggi umumnya pilih-pilih pekerjaan. Sementara itu, semakin banyak masyarakat khususnya angkatan kerja yang memilki mindset job-seeker. Banyaknya lulusan perguruang tinggi yang lebih memilih menjadi pegawai (employee) daripada membuka lapangan kerja. Masih melekat sikap menggantungkan diri pada harapan sebagi pekerja kantoran dan memiliki asumsi bahwa ketika lulus kuliah, kemudian mendapat pekerjaan kantoran akan menjamin masa depannya kelak.

Akibatnya menjadi  salah satu negara eksportir tenaga kerja yang besar. Menurut daya LSM Migrant Care, jumlah TKI sampai Januari 2011 di Arab Saudi (1,2 juta), Malaysia (2,3 juta), Hongkong (130 ribu) dan Singapura (80 ribu). Kondisi ini disebabkan karena sedikit entreprenuer yang bisa menciptakan lapangan kerja baru di dalam negeri. Entreprenuer yang seharusnya menjadi penolong para tenaga kerja dan menciptakan kesejahteraan bagi semua, tetapi keberadaannya belum mampu mengimbangi dengan jumlah tenaga kerja yang ada.

Solusi untuk menumbuhkan entreprenuership di Indonesia

Banyak angkatan kerja di Indonesia yang banyak mencari kerja di luar negeri seperti Malaysia, Hongkong, Arab Saudi dan Sinagpura disebabkan karena sedikitnya lowongan kerja. Solusinya adalah tidak ada yang salah ketika pemerintah melalui sektor pendidikan harus membekali para kaum muda agar berkemampuan memciptkan pekerjaan, menciptakan sesuatu yang baru dan memaksimalkan yang sudah ada. Dalam pendidikan proporsi teori dan praktek juga harus seimbang.

            Sudah saatnya, setiap orang mulai dari diri sendiri untuk merevitalisasi pola pikir (mindset) bahwa kita harus berubah dari pencari kerja menjadi pencipta kerja, semangat kewirausahaan perlu diberikan selamanya. Menghilangkan sikap ragu-ragu dan pesimis untuk berpindah dari employee menjadi pemilik usaha (entreprenuer) harus dihilangkan. Pemerintah melalui program sosialisasi dan pendidikan perlu melakukan berbagai kebijakan yang bertujuan mengubah pola pikir masyarakat.

Memperbaiki pola pikir masyarakat yang masih mempunyai sikap seperti :

  1. Masyarakat sekarang cenderung tidak mempunyai keyakinan, mulai dari diri sendiri harus yakin untuk menjadi yang terbaik
  2. Masyarakat cenderung tidak mempunyai hidup yang jelas, mulai dari diri senditi harus menetapkan hidup yang jelas, setiap orang harus membuat life-map yang berisi ide kreatif untuk masa depan
  3. Kebanyakan dari kita tidak mempunyai strategi yang mantap untuk mengatasi masalah hidup, lalu solusinya mulailah dari dalam diri kita senditi untuk belajar dari pengalam orang lain, memikirkan secara komprehensif dan matang untuk mengatasi setiap persoalan yang dihadapi
  4. Masyarakat cenderung tidak mempunyai rencana yang realistis, maka dari itu harus menggantinya dengan menetapkan rencana yang masuk akal untuk dapat dicapai dalam kurun waktu tetentu (membuat life-map yang masuk akal agar bisa dicapai)

Sementara itu untuk mengubah mindset bagi para lulusan perguruan tinggi dari semula memiliki pola pemikiran job-seeker menjad job-giver maka dari itu diperlukan langkah-langkah strategis dan realitas. Langkah-langkah tersebut antara lain :

1.      Membangun kultur kewiraushaan mulai dari keluarga

Kita menyadari bahwa kultur (budaya) berwirausaha tidak dapat ditanamkan secara cepat dan sekejap. Memerlukan waktu yang cukup lama untuk membangun kultur kewirausahaan. Maka dari itu setiap keluarga harus menanamkan jiwa wirausaha sejak dini dalam diri anak-anak mereka. Proses kulturalisasi berwirausaha ini menjadikan pengaruh bagi kemunculan wirausaha-wirasusaha baru yang tangguh.

 

 

2.      Membangun iklim usaha melalui berbagai program pemerintah

Disini posisi pemerintah sangat berpengaruh dalam  membangun dan membentuk iklim usaha yang mendukung tumbuh kembangnya wirausaha-wirausaha baru. Peran pemerintah dalam hal pembentukan iklim usaha sangat besar, seperti melalui lembaga perbankan dan keuangan untuk membuka akses modal bagi calon wirausaha, karena secara umum masyrakat enggan untuk menjadi seorang wirausaha karena hambatan modal. Pemerintah juga harus membuat suatu lembaga pendamping dan pengawas wirausaha baru agar dana yang dipinjamkan dapat berguna secara optimal. Mengingat kebanyakan selama ini dana yang dipinjamkan bagi masyrakar untuk mengembangkan wirausaha belum optimal. Ini bisa dilihat dengan adanya masyarakat yang justru lebih sering melakukan konsumsi terhadap modal yang diberikan oleh pemerintah. Dan akibatnya modal mereka terpakai habis sedangkan usaha yang akan dilakukan belum berjalan dengan mapan.

3.      Membenahi tujuan dunia pendidikan

Pola pikir (mindset) para sarjana yang umumnya masih berorientasi untuk menjadi pegawai harus segera diubah. Maka dari iru, posisi dan peran strategis lembaga pendudukan sebagai regulasi pembentukan manusia Indonesua yang seutuhnya perlu ditata kembali. Pola dan struktur kurikulum yang sekarang ini digunakan yang cenderung menghasilkan lulusan-lulusan yang siap pakai. Melalui pendidikan kewirausahaan yang membekali setiap manusia khususnya mahasiswa untuk mandiri dan berorientasi luas. Langkah strategisnya adalah kampus-kampus didaerah seharusnya bisa menjadi pusat pendidikan kewirausahaan, tidak hanya menanamkan benih kewirausahaan. Sementara itu mahasiswa juga harus dipacu untuk bisa menjadi pemilik usaha melalui berbagai usaha sesuai dengan latar belakang disiplin ilmu yang mereka miliki.

Persoalan krusial yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini mengenai adanya peningkatan jumlah angkatan kerja yang tidak diimbangi dengan adanya lapangan kerja didalam negeri. Serta sedikit adanya para lulusan sarjana dari perguruang tinggi yang enggan untuk melakukan wirausaha. Fenomena-fenomena tersebut berimplikasi pada rapuhnya kekuatan ekonomi Indonesia karena penambahan jumlah pengangguran yang semakin besar. Maka dari itu, mulai dari sekarang pemerintah segera mengambil peran dan langkah strategisnya untuk mengajak masyarakat mengembangkan jiwa entreprenuershipnya agar dapat memperbanyak jumlah entreprenuer di Indonesia. Karena semakin banyak entreprenuer di Indonesia akan semakin memperkokoh kekuatan ekonomi negara ini. Efeknya adalah tujuan hidup mengenai peningkatan kesejahteraan di Indonesia dan penguatan daya saing domestik di pasar internasional akan segera terwujud.

                                                                                                    

Referensi :

Edward. Dj (2009) Rahasia Sukses 25 Pengusaha UKM. Penerbit Gagas Bisnis. Jakarta

Entrepreneurship Journal. First Quarter (Januari-March 2011) Issue 1

Journal of Small Business and Entreprenuership vol 15 no 4 Winter 2000-2001

 

Syamsuddin MA & Susanta G (2009). Cara Mudah Mendirikan dan Mengelola UMKM. Penerbit Raih Asia Sukses, Jakarta.

 

http://www.bps.go.id/

http://blog.um.ac.id/mahasiswa/2011/12/22/merubah-indonesia-dengan-memperbanyak-entrepreneurship/

http://dinirochdiani.wordpress.com/entrepreneurship/

 

Membangun Jiwa Entrepreneur

 oleh: Supiandi

            Masyarakat dewasa ini dihadapkan pada perubahan-perubahan global yang sangat cepat, tidak dapat diprediksikan, diarahkan, dan dikontrol.Sejarah telah mencatat bahwa kemajuan suatu masyarakat sangat ditentukan oleh peran individu-individu yang memiliki semangat kewirausahaan dan inovasi. Perjalanan panjang bangsa Indonesia, misalnya, selalu dipelopori oleh tokoh-tokoh yang memiliki keberanian untuk memulai tindakan dan mengambil risiko (salah satu karakter yang kemudian dipercaya sebagai ciri orang-orang dengan semangat kewirausahaan) untuk terjadinya suatu perubahan.

Tengok juga sejarah negara-negara maju seperti Amerika, negaranegara Eropa, dan Jepang. Kita mulai dari Jepang, lalu Eropa, dan Amerika. Mesin ekonomi Jepang, misalnya, digerakkan oleh individu-individu yang inovatif. Kendaraan roda dua yang lalu lalang di jalan raya kita dan paling laris dewasa ini adalah hasil inovasi Soichiro Honda. Mobil yang paling laku di pasaran adalah hasil “inovasi tiada henti” Eiji Toyoda, orang di belakang layar Toyota. “Inovasi tiada henti” kemudian menjadi semboyan Pabrik Toyota. Lalu piranti audio visual yang kita nikmati adalah buah keberanian Akio Morita untuk mengembangkan pabrik milik ayahnya

(Morita Brewery) yang telah terkenal sebagai pabrik penghasil minuman tradisional Jepang (sake), pasta kedelai (miso), dan kecap (soyu) untuk memulai bisnis high-tech. Saat ini, Morita Brewery adalah pemilik saham terbesar pabrik piranti audio visual bermerk Sony, merk yang menurut survei adalah merk paling terkenal di seantero bumi setelah Coca-Cola. Pesaing Sony yang bergerak dalam high tech adalah juga seorang inovator bernama Konosuke Matsushita, pengembang Matsushita Electronic atau yang lebih dikenal dengan merk Panasonic.

Pada tahun 1616, seorang pejuang samurai yang tidak memiliki tanah sejengkal pun yang bernama Sokubei Mitsui, memberanikan diri meninggalkan status samurainya untuk berdagang minuman tradisional. Tiga ratus tahun kemudian klan Mitsui memiliki kekayaan yang sebanding

dengan Rockefeller dan mengontrol 15% aset finansial Jepang. Saat ini, Mitsui Co. (sebelumnya terkenal dengan Sakura Bank) adalah sepuluh bank terbesar di dunia yang menguasai sebagian besar saham Toyota, Sony, Toshiba, dan Fujitsu yang dilempar di pasaran. Mitsui Bussan, sebuah perusahaan perdagangan, menguasai 4% perdagangan eksport dan import Jepang dan menjadi firma perdagangan terbesar di dunia (Weston, 1999).

Di Eropa, ada cerita menarik tentang semangat kewirausahaan dan inovasi ini dari seorang direktur sumber daya manusia di perusahaan penerbangan Jerman Lufthansa bernama Thomas Sattelberger. Sattelberger telah berhasil mengembangkan aliansi penerbangan terbesar di dunia yang efektif dan efisien. Strategi aliansi yang dikembangkan oleh Sattelberger telah merevolusi industri penerbangan dunia. Awalnya, pada pertengahan tahun 1990-an, ongkos transportasi udara naik lebih cepat dan tidak setara lagi dengan kemampuan konsumen untuk membayar ongkos penerbangan. Sampai suatu saat, Presiden Lufthansa, Frank Reid, mengumumkan berdirinya Star Alliance pada tahun 1995, yang terdiri atas Lufthansa, United Airlines, Scandinavian Airlines, Varig (Brazil), Air Canada, dan Thai Airlines. Star Alliance menjadi aliansi penerbangan terbesar dari segi jumlah perusahaan penerbangan yang menjadi anggotanya. Namun, karena tidak ada otoritas sentral yang berlaku atas aliansi tersebut, berbagai isu di lapangan seperti pelayanan dan pemasaran tidak serta merta dapat dipecahkan. Di sinilah Sattelberger kemudian berperan mengembangkan bottom-up innovation sebagai asset terpenting Star Alliance. Ia mendisain serangkaian program “Alliance mentality” bagi para staf dari berbagai unsur yang menjadi anggota aliansi untuk bertukar pengalaman dan pengetahuan. Salah satu kegiatannya adalah roadshow internasional untuk mengkomunikasikan ide dan visi aliansi, lokakarya cross-cultural, dan program joint management yang memberi kesempatan staf dari penerbangan yang berbeda bekerja bersama dalam satu aliansi. Sattelberger menyadari bahwa individu dapat menyumbangkan pandangan dan pengalamannya untuk kepentingan kolektif aliansi.

Di Amerika Serikat, Ken Iverson, seorang chief executive dari Nucor Steel Company memperoleh US Technological Medal of Technology dari Presiden George Bush Senior. Ia adalah satu-satunya ahli baja yang pernah memperoleh medali tersebut. Iverson memperoleh medali tersebut berkat inovasi-inovasi teknologi dan metode pengolahan baja di perusahaannya

yang dapat menekan ongkos produksi secara signifikan dan telah membawa Nucor menjadi produsen baja dengan skala terbesar. Yang menarik adalah bahwa Nucor Steel Company adalah perusahaan tanpa R&D, atau bagian penelitian dan pengembangan, atau tanpa corporate engineering group. Inovasi yang dikembangkan oleh Iverson justru berawal dari perhatian para pekerja terhadap pengalaman sehari-hari. Iverson sadar betul bahwa suatu inovasi tidak harus dikembangkan dari suatu penelitian panjang dengan syarat keahlian tertentu. Iverson percaya bahwa “everyday insights can lead to important innovations” (Syrett dan Lammiman, 2002), seperti yang dikemukakannya usai menerima medali.

Di Indonesia, banyak cerita menarik tentang keberhasilan para wirausahawan dan inovator. Ada cerita tentang usahawan jamu tradisional yang produk kecantikannya dapat menembus pasar internasional. Banyak pula usahawan yang puluhan tahun berhasil mempertahankan kepeloporannya. Bisnis air putih atau air mineral yang dikemas dalam botol dan gelas plastik, misalnya, saat ini merebak dengan dahsyat. Kini sudah ada ratusan perusahaan yang bergerak di bidang ini. Pelopornya adalah merk Aqua. Saat ini pun sudah ada ribuan merk dengan berbagai kemasan yang isinya “hanya” air. Sebelum Aqua diluncurkan, semua orang saat itu tidak menyangka sama sekali bahwa air di dalam botol atau gelas plastik akan menjadi bisnis raksasa yang menghidupi orang banyak. Sebelum Aqua diluncurkan, semua orang tidak mampu melihat peluang tersebut. Mereka, termasuk kita, sudah terbiasa minum air putih di dalam gelas, bukan di botol atau gelas plastik. Pada saat itu pikiran kita sudah terbelenggu oleh tradisi minum air putih dalam gelas sehingga peluang bisnis yang begitu besar tidak terbaca kecuali oleh seorang Tirto Utomo, perintis air minum kemasan bermerk Aqua. Saat ini bisnis yang dirintis dari kemerdekaan berpikir seorang Tirto Utomo telah merebak dahsyat dan menghidupi jutaan orang di Indonesia.

Berdasarkan fakta-fakta tersebut di atas, tampak betapa pentingnya semangat kewirausahaan dan semangat inovasi dikembangkan untuk kemajuan suatu bangsa. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah sebenarnya yang dimaksud dengan semangat kewirausahaan, semangat inovasi, dan mengapa hal tersebut menjadi penting? Peter F. Drucker (, seorang ahli teori manajemen, mengemukakan bahwa meskipun istilah kewirausahaan telah digunakan lebih dari 200 tahun, namun definisi kewirausahaan itu sendiri masih menjadi pertanyaan mendasar. Istilah kewirausahaan merupakan terjemahan dari entrepreneur, yang diambil dari istilah Perancis yang berarti “antara” (between) dan “mengambil” (to take).

Definisi yang dikemukakan oleh Jeffrey A. Timmons (Warshaw, 1994), seorang profesor yang menulis buku “The Entrepeneural Mind”, adalah sebagai berikut: Entrepreneurship is a human, creative act that builds something of value from practically nothing. It is the pursuit of opportunity regardless of the resources, or lack of resources, at hand. It requires vision and the passion and commitment to lead others in the pursuit of that vision. It also requires a willingness to take calculated risks.

Berdasarkan definisi tersebut, ada beberapa jenis kewirausahaan yang kemudian berkembang. Ada seseorang yang mendapatkan ide atau konsep baru dan kemudian mengembangkan aktivitas berdasarkan ide atau konsep tersebut. Hal ini memerlukan kreativitas dan kemampuan melihat pola dan kecenderungan dalam masyarakat sebelum ide tersebut diterima dalam masyarakat. Ide atau konsep tersebut dapat merupakan sesuatu yang baru dan revolusioner yang memungkinkan berkembangnya aktivitas dan industri yang benar-benar baru. Contoh yang paling mudah adalah Steven Jobs dengan Apple Computer dan NEXT, serta Bill Gates dengan Microsoft. Semua orang pasti setuju bahwa mereka adalah individu dengan jiwa kewirausahaan sejati. Cerita tentang air minum kemasan bermerk Aqua di Indonesia juga dapat menjadi contoh keberhasilan kewirausahaan yang diawali suatu konsep atau ide baru.

Meredith dkk., 1996; Kuehl dan Lambing, 2000. Mengungkapkan ciri-ciri atau karakteristik dari seorang wirausahawan sebagai berikut:

  1. Hasrat tulus untuk menjalankan sesuatu. Seseorang yang berjiwa atau bersemangat wirausahawan memiliki hasrat untuk menjalankan dan mengembangkan sesuatu berawal dari dalam hatinya. “Sukses Apple Computer tidak berawal dari bahwa Apple dimulai dari suatu ide cemerlang tetapi lebih karena Apple Computer dibangun dengan segenap ketulusan hati,” ujar Steven Jobs, perintis Apple Computer. Jamu Sido Muncul mengembangkan tradisi bisnisnya bukan berdasarkan teori manajemen modern yang cemerlang, tetapi belajar dari tradisi sehari-hari yang dipertahankan dan dikembangkan setiap saat untuk mempertahankan bisnis jamu yang telah dibangun puluhan tahun. Justru bermula dari hasrat yang tulus inilah istilah kaizen (continuous improvement) dalam manajemen modern dapat dijalankan dengan sendirinya.
  2. Ulet dan tidak putus asa karena kegagalan. Para wirausahawan yang sukses adalah orang-orang yang tidak takut gagal. Mereka menjadikan kegagalan sebagai learning experiences. Walt Disney mengalami kebangkrutan tiga kali sebelum akhirnya sukses dengan film pertamanya. Henry Ford mengalami kegagalan dua kali sebelum akhirnya sukses dengan industri mobilnya.
  3. Kepercayaan diri. Seseorang yang bersemangat kewirausahaan memiliki rasa percaya diri atas kemampuan dan konsep yang dikemukakannya. Mereka biasanya memiliki pengetahuan yang dalam atas sesuatu yang menjadi minatnya, dan siap mengembangkan pengetahuan dan minatnya itu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun melalui proses pendalaman ataupun investigasi. Marie Curie contohnya. Fisikawan ini bekerja bertahun-tahun dan menghabiskan hampir seluruh usianya di laboratorium sampai akhirnya, justru pada puncak kelelahan fisik dan psikis, ia menemukan polonium dan radium yang mengubah teori konservasi energi yang ada saat itu.
  4. Mengenali diri sendiri. Seorang individu yang berjiwa kewirausahaan yang sukses adalah orang-orang yang memiliki kemampuan memahami diri sendiri dan memotivasi diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang kadang-kadang bukan merupakan pilihan bagi orang lain. Menurut John J. Kao (1991), inilah yang disebut internal locus of control. Orang-orang yang memiliki internal locus of control percaya bahwa nasib, kondisi ekonomi, dan faktor-faktor kesuksesan yang lain hanyalah pendukung dan bukanlah penentu kesuksesan.
  5. Manajemen risiko. Individu yang bersemangat kewirausahaan tidak memberikan seluruh kemampuan dan waktunya pada satu hal saja tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu risiko-risiko dalam proses awal. Mereka adalah orang-orang yang mempertimbangkan risiko secermat mungkin dan berusaha meminimalkan terjadinya risiko tersebut dalam proses.
  6. Perubahan adalah peluang. Untuk sebagian besar masyarakat, perubahan dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan dengan demikian harus dihindari. Seorang individu yang berjiwa kewirausahaan memandang perubahan sebagai sesuatu yang penting dan harus terjadi. Mereka adalah orang-orang yang mencari, merespon, dan mengembangkan perubahan menjadi sebuah kesempatan dan menjadikannya basis inovasi.
  7. Kemampuan bertoleransi terhadap ketidakpastian. Banyak wirausahawan yang sukses memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap ketidakpastian yang dijumpai dan berani memasuki situasi ketidakpastian yang sulit.
  8. Inisiatif dan kebutuhan akan prestasi. Banyak pendapat yang setuju bahwa seorang individu yang bersemangat kewirausahaan yang sukses adalah individu yang berani mengambil inisiatif saat orang lain tidak berani melakukan hal tersebut. Tidak sedikit orang memiliki ide cemerlang tetapi tidak pernah mewujudkan ideidenya dalam tindakan. Seorang yang berkarakter entrepreneur menjalankan idenya karena mereka memiliki kebutuhan yang tinggi untuk berprestasi.
  9. Memiliki orientasi yang detail dan seseorang yang perfeksionis. Seorang individu bersemangat kewirausahaan adalah seorang individu yang menginginkan kesempurnaan dan keunggulan atas apa yang dilakukannya. Mereka memberikan perhatian terhadap hal-hal kecil dalam setiap proses yang dijalankannya. Hal ini kadang-kadang menjadi penyebab frustrasinya orang-orang sekitar yang tidak memiliki motivasi yang sama untuk mencapai kualitas hasil maksimal dan tidak peduli terhadap hal-hal kecil. Oleh karena itu, belakangan ini muncul istilah sustainable perfection, atau kesempurnaan yang berkesinambungan. Ini dimaksudkan untuk menunjuk suatu proses mewujudkan ide menjadi tindakan, sambil memperbaikinya secara terus-menerus.
  10. Persepsi waktu. Seseorang yang berjiwa kewirausahaan menyadari pentingnya waktu dan bahwa waktu berjalan sangat cepat.
  11. Kreativitas. Salah satu alasan yang menyebabkan orang-orang yang berjiwa kewirausahaan sukses adalah karena mereka memiliki imajinasi dan dapat dengan mudah membangun skenarioskenario untuk mencapai kesuksesan. Mereka memiliki kemampuan melihat peluang saat orang lain tidak melihatnya sebagai peluang.
  12. Gambaran besar. Seorang individu yang bersemangat kewirausahaan memandang sesuatu secara holistik (menyeluruh). Mereka juga memiliki kemampuan melihat gambaran besar dan menyeluruh dari sesuatu hal di saat orang lain hanya memperhatikan sebagian kecil dari hal tersebut. Proses agar dapat memiliki gambaran menyeluruh mengenai suatu hal ataupun persoalan ini lahir dari kemampuan melakukan scanning the environment.
  13. Faktor-faktor pendorong. Meskipun kebanyakan orang beranggapan bahwa para wirausahawan yang sukses dimotivasi oleh uang, survei membuktikan bahwa faktor-faktor lain seperti keinginan untuk memanfaatkan kemampuan dan pengetahuan, mengembangkan kehidupan sesuai pilihan, dorongan keluarga, dan faktor-faktor lain yang lebih penting. Selalu ada dorongan yang kuat yang biasanya mendasari seorang entrepreneur mewujudkan gagasan-gagasannya.

Selain ciri-ciri yang telah disebutkan, karakteristik penting yang lain dari seseorang yang bersemangat kewirausahaan dan bersemangat inovasi mungkin dapat ditambahkan dan ditemukan sendiri oleh seseorang berdasarkan kisah ataupun pengalaman yang dijumpai.

Berdasarkan beberapa karakteristik seseorang yang bersemangat kewirausahaan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, ada beberapa catatan penting saat menggambarkan seorang entrepreneur. Pada dasarnya seorang individu yang berjiwa dan bersemangat kewirausahaan adalah seorang individu yang inovatif, kreatif, dan berani melakukan sesuatu yang tidak dipikirkan oleh orang lain. Ia terbang lebih tinggi dalam pemikiran, dalam cara memandang sesuatu, ataupun dalam mengambil tindakan dibandingkan masyarakat atau orang-orang di sekitarnya. Rasio atau jumlah mereka bervariasi dengan adanya perbedaan lingkungan dan kebudayaan. Bahkan sering dijumpai, meskipun salah satu ciri entrepreneur adalah kreatif, ternyata tidak semua orang yang kreatif dapat berkembang menjadi seseorang yang bersemangat kewirausahaan dan menjadi seorang inovator. Kebudayaan Jepang dikenal sebagai achievement- oriented culture yang membantu individu-individu dengan semangat kewirausahaan teguh untuk mencapai keberhasilan. Di sinilah tampak betapa pentingnya membangun lingkungan yang memberi keleluasaan bagi berkembangnya semangat kewirausahaan dan inovasi. Semangat kewirausahaan dan inovasi adalah dua hal yang saling berkait karena inovasi sendiri merupakan fungsi spesifik kewirausahaan.

Demikianlah disadari bahwa masyarakat dunia atau masyarakat global dewasa ini memerlukan orang-orang yang bersemangat kewirausahaan dan inovasi. Filosof Francis Bacon menuliskan dalam esaiesai tentang inovasi, “He that will not apply new remedies must expect new evils, for time is the greatest innovator”. Peter F. Drucker bahkan menyerukan lebih lantang, “Innovate or Die”. Irwan Hidayat, Presiden Direktur Sido Muncul, sebagaimana yang disampaikan dalam wawancara dengan sebuah majalah bisnis dan inovasi, dengan tegas menyebut inovasi sangat menentukan keberhasilan. Cucu pendiri Sido Muncul ini tak sembarangan berbicara demikian. Pengalamannya memberi bukti nyata. Salah satu jamu seduh tolak angin produksinya cenderung mendatar pertumbuhannya. Begitu inovasi mengantarkan jamu seduh tersebut menjadi kaplet dan jamu cair siap minum, penjualannya melambung tinggi dan mengantarkan jamu andalannya masuk ke niche market (pasar ceruk), yaitu mereka yang malas minum jamu karena kurang praktis dan terkesan kuno.

Refrensi:

Bacon, F., 1986, The Essays, London, Penguin Classics.

Drucker, P.F., 1985, Innovation and Entrepreunership, New York, Harper Perennial.

Kao, J.J., 1991, The Entrepreuneur, New Jersey, Prentice Hall, 20.

Meredith, G.G., Nelson, R.E., Neck, P.A., 1996, Kewirausahaan: Teori danPraktek, Jakarta, PT Pustaka Binaman Pressindo.

Syrett, M., Lammiman, J., 2002, The Innovative Individual, Oxford, Capstone Publishing.

Warshaw, M., 1994, The Entrepreuneural Mind, Success, April, 48.

Weston, M., 1999, Giants of Japan: the Lives of Japan‘s Greatest Men and Women, New York,  Kodansha International.

 

 

 

  1. Usually I don’t learn article on blogs, but I wish to say that this write-up very forced me to take a look at and do so! Your writing style has been amazed me. Thank you, very nice article.

  2. I wanted to create you one bit of remark just to thank you very much as before regarding
    the precious tactics you’ve provided on this website. It’s certainly shockingly open-handed with you to
    grant unreservedly what numerous people might have marketed
    for an e-book in making some dough on their own, particularly since you could have tried it in case
    you desired. The tactics likewise served to provide a
    good way to comprehend the rest have a similar dream just like my
    personal own to grasp a good deal more with respect to this matter.
    I am certain there are thousands of more pleasant periods ahead
    for many who find out your blog.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: