Diantara Xenophobia dan Nasionalisasi, Studi Kasus dari Zimbabwe

Isu nasionalisasi perusahaan asing sudah muncul cukup lama di Indonesia.  Takut dengan orang asing atau dalam bahasa ilmiah disebut dengan Xenophobia (Xenophobia is defined as “an unreasonable fear of foreigners or strangers or of that which is foreign or strange.”[1] It comes from the Greek words ξένος (xenos), meaning “stranger,” “foreigner” and φόβος (phobos), meaning “fear.”). Mungkin ini pula yang terjadi kepada beberapa oknum di Indonesia, karena terdapat munculnya rasa takut terhadap orang asing sehingga mereka menganggap adanya orang asing di Indonesia akan membuat mereka menderita sehingga untuk mencegah rasa takut tersebut maka salah satu solusinya adalah mengusir mereka. Bukan berarti dalam hal ini penulis adalah xenophila (menyukai tau menganggap orang asing inferior), tetapi penulis ingin menjabarkan bahwa xenophobia adalah hal buruk bila dipelihara apalagi bila tidak menggunakan akal sehat dalam melihat adanya keberadaan investasi asing di Indonesia sehingga bila xenophobia ini dipelihara akan membentuk kepribadian yang xenocentrism.

Ketakutan akan orang asing atau xenophobia dengan menggunakan objek investasi asing akan menyebabkan investasi orang asing tersebut mengancam keberadaan masyarakat yang ada. Efeknya adalah sikap antipati yang muncul terhadap orang asing.

Tulisan ini tidak untuk mengajari ataupun menghakimi sudut pandang orang lain tetapi sebagai penjabaran fakta-fakta yang terjadi andaikan nasionalisasi perusahaan asing dilakukan. Karena kesibukan penulis, tulisan ini tidak dibentuk dengan format baku tetapi hanya pemikiran penulis menanggapi opini yang ada, serta tidak dimaksudkan untuk menjadi bahan perdebatan. Penjabaran yang dilakukan adalah dengan menggunakan studi komparatif dengan negara asing dalam hal ini yaitu Zimbabwe, yang lebih dulu telah melakukan nasionalisasi di negaranya sendiri.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diketahui bila misalnya akan terjadi pembuatan keputusan mengenai nasionalisasi migas. Sebelum mencoba nasionalisasi perusahaan asing dalam arti sebenarnya, mari Kita melihat pengalaman dari negara tetangga yaitu Zimbabwe.

Presiden Mugabe pada tahun 2000, mempunyai maksud baik untuk membuat rakyatnya menikmati pertanian yang ada di Zimbabwe. Cara yang dilakukan oleh Mugabe adalah dengan menasionalisasikan pertanian dengan cara mengambil pertanian yang dimiliki oleh orang kulit putih dan diberikan kepada orang kulit hitam. Lahan yang diberikan jumlahnya tidak main-main yaitu sebesar  110,000 km2. Apakah yang terjadi? Apakah masyarakat Zimbabwe hidup bahagia selamanya? Rupanya tidak yang terjadi adalah terjadinya krisis pangan. Pertumbuhan produksi pertanian jatuh dari 3% menjadi -3% pada tahun 2000 hanya dalam jangka waktu tiga tahun, arus net foreign direct investment menurun dari $ 435 juta pada tahun 1998 menjadi 0 pada tahun 2001 dan ekspor turun dari $ 2,1 miliar menjadi $ 1,3 miliar dalam jangka waktu yang sama. Antara tahun 2000 dan 2009, pertumbuhan real GDP dan GDP per kapita sekitar -6%, tingkat pertumbuhan sekitar -8,5% dan foreign direct investment (FDI) hanya sekitar $ 35 juta tiap tahun.

Kenapa hal ini terjadi, pertama masyarakat Zimbabwe belum siap dalam menerima tanah nasionalisasi pemerintah dalam hal pengelolaan. Kedua, akibat nasionalisasi ini banyak investasi asing yang lari ke luar negeri dari Zimbabwe, karena ketakutan bahwa merekalah yang selanjutnya yang akan dinasionalisasi. Akibatnya terjadi capital outflow adalah timbulnya banyak pengangguran, nama buruk negara tersebut di negara lain, serta sangat sedikit investor yang mau berinvestasi bila melihat track record negara tersebut. Ketiga akibat nasionalisasi ini inflasi Zimbabwe yang sangat besar  yaitu mencapai 79.600.000.000,00% (tujuh puluh sembilan milyar enam ratus juta persen), tertinggi dalam sejarah manusia hidup di bumi. Hal ini membuat Zimbabwe sebagai salah satu negara termiskin di dunia apalagi ditambah dengan korupsi oleh Mugabe.

Table 1.1 Inflasi Zimbabwe

Hanke Hyperinflation Index for Zimbabwe (HHIZ)

Date

Index

Monthly Inflation Rate

Annual Inflation Rate

5-Jan-07

1.00

13.70%

2-Feb-07

1.78

77.60%

2-Mar-07

3.14

76.70%

5-Apr-07

6.90

56.20%

4-May-07

6.75

-2.15%

1-Jun-07

20.70

207.00%

6-Jul-07

53.00

60.40%

3-Aug-07

49.10

-7.29%

7-Sep-07

82.50

70.60%

5-Oct-07

219.00

165.00%

2-Nov-07

642.00

193.00%

28-Dec-07

2,010.00

61.50%

215,000%

25-Jan-08

2,250.00

11.80%

29-Feb-08

8,260.00

259.00%

28-Mar-08

17,700.00

115.00%

25-Apr-08

57,100.00

222.00%

30-May-08

442,000.00

498.00%

26-Jun-08

23,600,000.00

5,250.00%

41,400,000%

4-Jul-08

49,200,000.00

3,740.00%

93,000,000%

11-Jul-08

81,800,000.00

2,080.00%

167,000,000%

18-Jul-08

122,000,000.00

1,030.00%

250,000,000%

25-Jul-08

157,000,000.00

566.00%

317,000,000%

29-Aug-08

6,330,000,000.00

3,190.00%

9,690,000,000%

26-Sep-08

794,000,000,000.00

12,400.00%

471,000,000,000%

3-Oct-08

3,570,000,000,000.00

15,400.00%

1,630,000,000,000%

10-Oct-08

32,300,000,000,000.00

45,900.00%

11,600,000,000,000%

17-Oct-08

1,070,000,000,000,000.00

493,000.00%

300,000,000,000,000%

24-Oct-08

124,000,000,000,000,000.00

15,600,000.00%

26,100,000,000,000,000%

31-Oct-08

24,600,000,000,000,000,000.00

690,000,000.00%

3,840,000,000,000,000,000%

7-Nov-08

4,890,000,000,000,000,000,000.00

15,200,000,000.00%

593,000,000,000,000,000,000%

14-Nov-08

853,000,000,000,000,000,000,000.00

79,600,000,000.00%

89,700,000,000,000,000,000,000%

Sources: Imara Asset Management Zimbabwe and author’s calculations.

Highest Monthly Inflation Rates in History

Country

Month with highest inflation rate

Highest monthly inflation rate

Equivalent daily inflation rate

Time required for prices to double

Hungary July 1946 1.30 x 1016% 195% 15.6 hours
Zimbabwe Mid-November 2008 (latest measurable) 79,600,000,000% 98.0% 24.7 hours
Yugoslavia January 1994 313,000,000% 64.6% 1.4 days
Germany October 1923 29,500% 20.9% 3.7 days
Greece November 1944 11,300% 17.1% 4.5 days
China May 1949 4,210% 13.4% 5.6 days

Source: Prof. Steve H. Hanke, February 5, 2009.

Indonesia bila melakukan nasionalisasi perusahaan asing yang tidak melihat realitas akan membuat kejadian di Zimbabwe bisa terjadi Indonesia. Xenophobia yang dalam jangka panjang menyebabkan Xenocentrism bisa membuat oknum-oknum tertentu menganggap hal-hal asing sebagai hal yang buruk.

Investasi asing merupakan hal yang baik, hal ini terbukti dari pengalaman Korea Selatan yang menerima investasi asing di negaranya dengan baik. Mereka menghargai orang asing yang investasi di negara mereka. Investasi asing akan menciptakan lapangan kerja dan dalam jangka panjang akan memunculkan transfer teknologi. Sekarang terbukti dengan transfer teknologi yang terjadi di Korea Selatan, Korea menjadi negara yang maju.

                Sekarang andaikan Indonesia melakukan nasionalisasi investasi asing apakah efek yang terjadi? Pertama, kita akan diembargo oleh WTO, akibatnya kita tidak bisa melakukan ekspor dan impor. Impor seperti bahan makanan (seperti tempe dan tahu yang menggunakan kedelai Amerika),elektronik (Sony, Toshiba, dll), furniture, pakaian (Levis, Polo,dll.) tidak bisa dilakukan akibatnya inflasi yang sangat besar (hyper inflation). Kedua akan timbul capital outflow, investor asing akan kabur dan tidak akan berinvestasi di Indonesia dan akibatnya adalah pengangguran tinggi, kriminalitas tinggi dan sebagainya. Ketiga Indonesia akan diasingkan dari internasional, serta hal ini akan berimbas terhadap track record negara.

Andaikan semua investasi asing pergi dari indonesia apakah bisa entrepreneur di Indonesia yang hanya berjumlah 0,18% dari penduduk Indonesia menampung seluruh angkatan kerja yang ada. Atau UMKM yang mencapai 99,5% dari total usaha yang ada di Indonesia (yang rata-rata hanya menampung 2-3 orang dalam tiap UMKM) menampung seluruh angkatan kerja di Indonesia. Mari berpikir secara rasional bahwa untuk saat ini investasi asing sangat berperan penting dalam menampung angkatan kerja Indonesia yang ada.

                Daripada mengkritik dan mengeluh tentang investasi asing, takut akan superiornya orang asing serta memungkin syndrome xenophobia lebih baik membangun dari diri sendiri. Bila merasa bahwa orang asing sudah menguasai ekonomi Indonesia, yang Soekarno menyebutnya sebagai neo imperialisme/ neo kolonialisme, ya sudah tidak usah bekerja dengan orang asing buatlah usaha sendiri dan tunjukkan bahwa kita bisa berdiri sendiri, melihat dunia dengan pemikiran positif lebih baik daripada pemikiran negatif. Daripada mengeluh dengan kegelapan lebih baik menyalakan lilin untuk penerangan. Karena mengeluh tidak akan merubah keadaan dan merusak pagar DPR atau membakar ban bekas tidak akan membuat Indonesia lebih baik. Bangun dari diri sendiri mencari partner yang baik dan bangunlah usaha maka andaikan entreprenur di Indonesia mencapai angka 2% dan Purchase Power Parity (PPP) $6,000 maka kata Fared Zakaria bukan tidak mungkin Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara maju.

                Sebelum mengkritik seseorang lebih baik introspeksi diri apakah anda suda benar dalam mengelola hidup anda. Sebelum mencari kesalahan seseorang lebih baik melihat kesalahan diri sendiri. Intinya adalah uruslah dirimu sendiri sebelum mengurus orang lain, dan jangan merasa sok pintar bila anda hanya tau suatu masalah dari opini orang, cari datanya analisis dan benturkan antara pihak pro dan kontra, dari hal itu anda bisa melihat di posisi mana anda berada.

Jadilah thermostat yang merubah suhu sekitar dan bukan termometer yang diubah oleh suhu sekitar. Jadilah orang yang membentuk opini bukan terbentuk oleh opini. Mari membangun Indonesia dari diri sendiri

Referensi

Munteyo and Brandon J. Nationalization of the Zimbabwe Mining Sector: Another Blunder by the Mugabe Regime?

Coltart D. A Decade of Suffering in Zimbabwe Economic Collapse and Political Repression under Robert Mugabe. Center for Global Liberty and Prosperity March 24, 2008 no. 5

Hanke, Steve. R.I.P. Zimbabwe Dollar. CATO Institute June 25, 2008.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: