Teori Pembangunan Ekonomi yang Sesuai untuk Indonesia

oleh: Gabi Haifa Nadhira

Pengantar

Pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangu masalah-masalah pembangunan seperti pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan. Dalam mengatasi masalah-masalah pembangunan, para teoris mengemukakan teori-teori pembangunan yang tepat untuk sebuah negara. Teoris pada tahun 1950-an dan 1960-an memiliki pandangan bahwa proses pembangunan merupakan sebuah tahap berurutan yang harus dilalui oleh semua negara. Namun pada tahun 1980, teoris dari Rusia, Alexander Gerchenkron mengatakan “late comers get advantages from the incumbent developed countries” yaitu bahwa sebuah negara tidak harus mengalami tahap-tahap yang dialami negara maju saat ini, ada baiknya bahwa negara berkembang belajar dari negara maju atas masalah-masalah yang pernah dialami negara maju dan menghindari permasalahan yang sama. Dengan demikian negara tersebut akan berkembang lebih cepat.

Teori Klasik Pembangunan

Dalam teori klasik pembangunan ekonomi [1]terdapat empat pendekatan yaitu: linear stages of growth model, model pertumbuhan struktural, revolusi ketergantungan internasional, dan kontrarevolusi neoklasik. Pendekatan model pembangunan tahap linear meliputi lima tahap seperti yang dikemukakan oleh Walt W. Rostow. Kelima tahap tersebut adalah:

  1. Masyarakat tradisional
  2. Persiapan tinggal landas
  3. Tinggal landas
  4. Fase menuju kematangan ekonomi
  5. Tahap konsumsi masal yang tinggi.

Disebutkan oleh Rostow bahwa sebuah negara dikatakan maju apabila telah melewati tahap tinggal landas dan negara berkembang berada pada tahap “persiapan (menjadi negara maju)”. Strategi utama untuk menuju tahap tinggal landas menurut Harrod-Domar adalah dengan memperbanyak tabungan baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk mendorong investasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Teori perubahan struktural fokus pada mekanisme dimana negara merubah struktur ekonomi domestiknya dari agrikultur tradisional menjadi lebih modern dan lebih mengarah ke sektor industri dan jasa. Teori seperti sering juga disebut dengan Lewis two-sector model:

Sektor Tradisional à Sektor Industri

Lewis menyatakan bahwa dalam sektor tradisional, masyarakat tersebut memiliki zero marginal labor productivity. Model Lewis fokus pada transfer tenaga kerja serta pertumbuhan output dan lapangan kerja di sektor modern.

Model ketergantungan internasional melihat negara berkembang dikelilingi oleh kekakuan institusional, politik, dan ekonomi, baik domestik maupun internasional, dan terperangkap dalam ketergantungan terhadap negara maju. Pada pendekatan ini, terdapat tiga aliran utama:

  1. Neocolonial dependence model, karena sistem kapital internasional yang tidak setara
  2. False-paradigm model, kesalahan dan nasihat yang tidak sesuai oleh para ahli
  3. Dualistic development thesis, dimana elemen superior dan inferior dapat berjalan berdampingan dalam suatu wilayah.

Argumen utama kontra revolusi neoklasik adalah hasil yang kurang memuaskan akibat buruknya alokasi sumber daya akibat kebijakan harga yang tidak tepat dan terlalu banyaknya intervensi oleh pemerintah negara sedang berkembang. Intervensi yang berlebihan dari pemerintah memperlambat laju pertumbuhan ekonomi. Hal ini mendorong dibutuhkannya pasar bebas klasik. Model pertumbuhan neoklasik tradisional merupakan hasil perkembangan model Harrod-Domar dan Solow. [2]Menurut teori ini pertumbuhan ekonomi tergantung kepada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal) dan tingkat kemajuan teknologi.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

[3]Sepanjang sejarah kemerdekaan selama lebih dari enam dasawarsa, Indonesia telah mengalami beragam kemajuan di bidang pembangunan ekonomi. Bermula dari sebuah negara yang perekonomiannya berbasis kegiatan pertanian tradisional, saat ini Indonesia telah menjelma menjadi negara dengan proporsi industri manufaktur dan jasa yang lebih besar. Kemajuan ekonomi juga telah membawa peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang tercermin tidak saja dalam peningkatan pendapatan per kapita, namun juga dalam perbaikan berbagai indikator sosial dan ekonomi lainnya termasuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Dalam periode 1980 dan 2010, Indeks Pembangunan Manusia meningkat dari 0,39 ke 0,60.

[4]Pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tiga dekade terakhir diakui telah banyak memberikan kemajuan materiil, tetapi mengandung dua masalah serius. Pertama, perekonomian Indonesia masih sangat rentan terhadap kondisi eksternal dan volatilitas pasar finansial dan komoditas. Kedua, kemajuan ekonomi yang telah dicapai ternyata sangat tidak merata, baik antardaerah maupun antar kelompok sosial ekonomi. Kemajuan materiil yang telah dicapai melalui strategi pertumbuhan selama 30 tahun terakhir ini tidak banyak memberikan sumbangan yang sesungguhnya terhadap “pembangunan”. Namun pada tahun 2011 yang lalu, diluncurkan Program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI) 2011-2025 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bertujuan untuk mempercepat pembangunan Indonesia.

Teori Pembangunan yang sesuai untuk Indonesia

Melihat dari fokus-fokus dari teori pembangunan yang telah disebutkan sebelumnya, teori yang sesuai untuk Indonesia menurut saya adalah model pembangunan neoklasik Solow sebagai perluasan dari model Harrod-Domar. Dimana tabungan dan investasi merupakan hal perlu ditingkatkan (dari model Harrod-Domar), tingginya tabungan dan investasi akan memperbesar kemungkinan peminjaman modal bagi masyarakat sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi. Dengan menambahkan faktor kedua yaitu tenaga kerja, serta variabel baru yaitu teknologi.

Seperti yang tertulis dalam program MP3EI, percepatan transformasi Ekonomi dititikberatkan pada pendekatan peningkatan value added, mendorong investasi, mengintegrasikan sektoral dan regional, serta memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya.  [5]MP3EI mempunyai 3 (tiga) strategi utama yang dioperasionalisasikan dalam inisiatif strategic. Strategi pertama adalah pengembangan potensi melalui 6 koridor ekonomi yang dilakukan dengan cara mendorong investasi BUMN, Swasta Nasional dan FDI dalam skala besar di 22 kegiatan ekonomi utama. Strategi kedua, memperkuat konektivitas nasional melalui sinkronisasi rencana aksi nasional untuk merevitalisasi kinerja sektor riil. Strategi ketiga, pengembangan Center of Excellence di setiap koridor ekonomi. Dalam hal ini akan didorong pengembangan SDM dan IPTEK sesuai kebutuhan peningkatan daya saing.

Dengan dasar teori Harrod-Domar dan Solow melalui peningkatan investasi dan tabungan, serta pembaruan teknologi, dan beberapa faktor lainnya diharapkan Indonesia dapat mempercepat pembangunannya. Tidak lepas dari pembelajaran atas pengalaman oleh negara maju dan negara berkembang lainnya yang harus dilakukan oleh Indonesia agar tidak mengalami kesalahan yang sama.

Referensi:

Lincolin Arsyad. Ekonomi Pembangunan. Penerbit Gunadarma

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ekonomi_pembangunan/bab_3_teori_pertumbuhan_dan_pembangunan_ekonomi.pdf

Mubyarto dan Daniel W. Bromley. A Development Alternative for Indonesia. 2002. Gadjah Mada University Press

Michael P. Todaro, Stephen C. Smith. Economic Development

Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025

http://www.bappenas.go.id/node/165/3184/master-plan-percepatan-dan-perluasan-pembangunan-ekonomi-indonesia-mp3ei-2011-2025/

Peluncuran Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia

http://www.ekon.go.id/news/2011/05/27/peluncuran-masterplan-percepatan-dan-perluasan-pembangunan-ekonomi-indonesia

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: