Entrepreneurship Solusi Kepemimpinan dan Kemandirian Bangsa

Tema: Kepemimpinan dan Kemandirian Nasional

Entrepreneurship Solusi Kepemimpinan dan Kemandirian Bangsa

Entrepreneur dapat diartikan sebagai mereka yang mengatur dan secara aktif mengontrol hubungan dari unit faktor produksidari supply barang dan jasa (Evans, 1949). Kata Entrepreneur semula berasal dari Bahasa Perancis yang mulai ada pada buku Dictionnaire Unversel de Commerce (Paris, 1723) yang diartikan sebagai seseorang yang melakukan proyek; manufaktur, sebuah master builder.Entrepreneur secara umum dapat dibagi dua, yaitu routine entreprenueurship, yang merupakan kegiatan yang berkaitan dengan kordinasi dan manayemen yang diketahui, dan bahwa fungsi produksi dapat diterapkan dalam pasar yang sudah cukup jelas didefinisikan. Bentuk kedua adalah N-entrepreneurship, bentuk baru entreprenurship yang digagas oleh Schumpeter sebagai bentuk baru entrepreneurship yang dikatakan bahwa tidak semua pasar yang ada dapat terdefinisi dengan jelas serta tidak semua faktor produksi yang relevant masuk dalam fungsi produksi (Leibenstein, 1968).

Richard Cantilon (1680-1734) seorang ahli ekonomi dan bisnisman abad 18 menyatakan bahwa entrepreneurship mempunyai peran sentral dalam pasar. Cantilon menyatakan bahwa entrepreneurship merupakan intermediary antara landowners dan hirelings atau dalam bahasa sekarang dapat disebut sebagai pengusaha dan pekerja.  Richard Cantilon sebagai penggiat entrepreneuship di Perancis membangkitkan peneliti-peneliti sentral mengenai entrepreneurship seperti Nicholas Baudeau, Jeremy Bentham, J.H. Von thunen, Gustav Schmoller, Werner Sombart, Max Weber, Joseph Schumpeter, dll (Hebert, 2006). Para pemikir ekonomi pada awalnya melihat dari sisi supply tetapi semakin lama berkembang sehingga entrepreneur berkembang tidak hanya dari sisi supply saja tetapi dari sisi demand yang digagas oleh Schumpeter (1928).

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan penduduk yang berlimpah, mempunyai lokasi yang strategis yaitu diantara dua benua, tetapi mengapa Indonesia dapat dikategorikan sebagai negara yang kurang maju dibandingkan negara-negara tetangga Indonesia lainnya seperti Singapura, Malaysia dan sebagainya.Muncul beberapa faktor yang dilihat dari sisi entrepreneurial yang mungkin dapat menjadi acuan.

Indonesia kurang memilki leadership, terutama dalam mengatur sumber daya alam dan manusia yang ada oleh karena itu dibutuhkan tokoh-tokoh entrepreneur untuk membangkitkan kembali kekuatan Indonesia. Entrepreneur mempunyai berbagai macam fungsi yang sangat baik seperti menyerap tenaga kerja, membangun daerah, meningkatkan devisa negara, serta secara tidak langsung dapat mengharumkan nama bangsa.

Peran entrepreneur dalam mengharumkan nama bangsa berdasarkan studi empiris yang terjadi di dunia, bila kita mendengar kata Sony, Fujitsu, Honda dan Yamaha dalam pikiran kita pasti terlintas negara Jepang yang identik dengan buatan kualitas terbaik, dengan komponen yang sophiscated, anggapan ini akan muncul pula saat mendefinisikan orang-orang dari Jepang. Merek Mercedes Benz dan BMW akan membuat kita teringat dengan negara Jerman yang karena barang tersebut premium dan tahan lama, membuat kita berpikir bahwa orang-orang Jerman membuat barang dengan kualitas yang sama dengan merek pioner di negara tersebut. Bila mendengar kata Rolex atau Brietling maka akan teringat akan negara Swiss yang secara tidak langsung akan menyatakan bahwa barang buatan Swiss adalah barang mahal dan premium serta dibuat dengan presisi tinggi. Merek-merek ini secara tidak langsung memberikan cap positif bagi negara-negara tempat mereka berasal, sehingga secara tidak langsung mengharumkan nama negara dan bahkan meningkatkan image dari penduduk yang berasal dari negara bersangkutan.

Entrepreneurship diperlukan sebagai solusi kepemimpinan dan kemandirian bangsa. Hal ini karena banyak negara tumbuh dari entrepreneurship, dan bagi negara berkembang seperti Indonesia entrepreneurship sangat penting walaupun harus diakui bahwa di Indonesia sangat sulit menjadi pengusaha karena masalah perizinan dan birokrasi yang cukup lama, bandingkan dengan Singapura yang hanya membutuhkan waktu tiga hari dalam membuat izin usaha.

Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, manusia dan lokasi dieksploitasi oleh asing, banyak perusahaan asing yang tumbuh besar di Indonesia. Kurangnya perusahaan lokal di Indonesia membuat perusahaan asing tumbuh berkembang di Indonesia dalam mengambil ‘spot’ lowong yang tersedia. Ironisnya banyak lulusan baru yang pintar dan berbakat di Indonesia lebih memilih untuk bekerja di perusahaan asing daripada perusahaan lokal di Indonesia. Ada beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi. Pertama upah yang diberikan perusahaan asing lebih besar daripada perusahaan lokal Indonesia. Kedua, prestise yang timbul bila bekerja di perusahaan asing. Ketiga, kurangnya lowongan pekerjaan yang sesuai bagi lulusan mahasiswa berbakat Indonesia di perusahaan lokal. Keempat, karena para lulusan berbakat ini mempunyai curriculum vitae yang diatas rata-rata, maka mendapatkan pekerjaan di perusahaan dengan upah tinggi lebih mudah dibandingkan lulusan lain.  Efek dari hal ini adalah perusahaan lokal kurang berkembang dibandingkan perusahaan asing.

Mindset setelah luluskuliahuntuk menjadi pekerja, merupakan salah satu penyebab sedikitnya entrepreneur di Indonesia. Beberapa penyebab dari hal ini antara lain adalah, universitas secara umum mengajarkan mahasiswa untuk menjadi pekerja walaupun secara umum sudah muncul universitas yang terbentuk untuk mengembangkan entrepreneur di Indonesiaserta lingkungan Indonesia yang kurang mendukung terutama birokrasi dalam perizinan usaha di Indonesia.

Barang buatan Indonesia bagi kebanyakan masyarakat  masih dianggap kurang begitubaik dibandingkan barang buatan luar negeri. Pemikiran ini sangat bertentangan dengan kenyataan yang ada, bila kita tahu produk Nike ataupun GAP, sebagian besar produknya dibuat di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa produk buatan Indonesia tidak kalah dengan produk buatan luar negeri, dan kita harus berbangga akan hal tersebut.

Negara yang maju adalah negara yang bisa menghargai budaya dan buatan negaranya sendri. Kalau bukan kita yang membangun lalu siapa, apakah kita mau ‘dijajah’ secara ekonomi oleh bangsa asing. Pepatah China menyatakan bahwa lebih bak menyalakan lilin di tengah kegelapan daripada menggerutu akan kegelapan yang ada. Lebih baik kita membangun bangsa Indonesia yaitu dengan entrepreneurship daripada berdemo akan ketidakadilan, lapangan pekerjaan, dsb. Percayalah bahwa pemerintahan Indonesia pasti mempunyai pemikiran sendiri akan kebijakan dibuat, daripada berdemo dengan membakar ban ataupun merusak pagar DPR, lebih baik siapkan diri untuk membangun diri sendiri. Lebih baik mengurus diri sendiri daripada mengurus orang lain, karenamenghujat pemerintah tidak akan menyelesaikan masalah, meminta lapangan pekerjaan tidak pula akan menyelesaikan masalah. Lebih baik buatlah takdir kita sendiri dengan membuat lapangan pekerjaan dengan kata lain menjadi wirausahawan. Seperti Robert Kiyosaki katakan daripada kita sibuk berusaha menaiki tangga (jabatan), lebih baik kita memiliki tangga (membuat lapangan usaha). Walaupun mungkin tangga tersebut kecil (usaha kecil) tetapi akan banyak orang terbantu dengan tangga yang kita buat (pembuatan lapangan pekerjaan).

 

Muto Pangihutan Christianson Sagala, S.E.

Strategic and Financial Manager

PT Argovia Indonesia

Email: mutosagala@gmail.com

Office: Gunung Ketur PAII/122 Pakualaman

Referensi

 

Evans, G.(1949).‘The Entrepreneur and Economic Theory: A Historical and Analytical Approach’.The American Economic Review, Vol. 39, No. 3, Papers and Proceedings of the Sixty-first Annual Meeting of the American Economic Association (May, 1949), pp. 336-348.

Hebert and Link, A.(2006).‘The Entrepreneur as Innovator.Journal of Technology Transfer, 31, 589–597, 2006

Kiyosaki dan Letcher S. Rich Dad Poor Dad.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

Leibenstein, H.(1968).‘Entrepreneurship and Development’.The American Economic Review, Vol. 58, No. 2, Papers and Proceedings of the Eightieth Annual Meeting of the American Economic Association (May, 1968), pp. 72-83.

Schumpeter, J.A., 1934, The Theory of Economic Development,translated by R. Opie from the 2nd German edition [1926],Cambridge: Harvard University Press.

  1. You need to be a part of a contest for one of the most useful websites on the web.
    I most certainly will recommend this web site!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: