Pengenalan Perekonomian Indonesia “Apa, Mengapa, Bagaimana?”

Oleh: Zira Brenda Wiranti

Pengantar

Indonesia adalah negara ke empat yang menduduki negara dengan penduduk paling banyak di dunia, yaitu dengan jumlah sekitar 237,6 juta jiwa. Pulau Jawa, merupakan pulau dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yaitu sekitar 136,6 juta jiwa1 dan merupakan salah satu area di dunia yang paling banyak ditempati. Indonesia memiliki ekonomi berbasis pasar dimana pemerintah memiliki peran yang sangat penting dalam prosesnya. Ada 141 perusahaan milik negara, dan pemerintah mengelola harga pada kebutuhan pokok, termasuk bahan bakar, beras, dan listrik. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam nya, selain itu pada tahun 2010 sektor bank, ekspor dan perdagangan, minyak dan investasi menunjukkan perkembangan yang signifikan dan stabil sehingga Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.  Di dalam jurnal ini, akan dijelaskan bagaimana seluk beluk perekonomian Indonesia yang berdasarkan Pancasila, tantangan pembangunan bangsa dan wawasan kebangsaan dimana nasionalisme merupakan esensi penting dalam proses pembangunan ekonomi bangsa Indonesia.

Sistem Ekonomi Indonesia

Pertanyaan yang muncul setiap kali mendiskusikan sistem ekonomi Indonesia adalah: Sistem ekonomi yang sekarang berlangsung di Indonesia sebenarnya tergolong sistem ekonomi apa? Tawaran sistem ekonomi pancasila dengan fokus ekonomi kerakyatan memang menarik. Namun, pilihan akan sistem ekonomi yang pas bagi Indonesia menuntut dilakukannya kajian mendalam mengenai struktur pengambilan keputusan, mekanisme informasi dan koordinasi ditentukan oleh pasar ataukah perencanaan, bagaimana hak-hak milik diatur, dan sistem insentif. Selain itu, dalam perbandingan sistem ekonomi diperlukan kajian mengenai hasil akhir dari sistem ekonomi yang kita anut, yang meliputi: pertumbuhan ekonomi, efisiensi, distribusi pendapatan, stabilitas, dan tercapainya tujuan-tujuan pembangunan (Gregory & Stuart, 1992: bab 1-3) Sistem ekonomi pancasila adalah sistem ekonomi yang mengandung nilai-nilai strategis budaya bangsa yaitu kekeluargaan dan kemandirian sebagai ciri strategis budaya bangsa. Pancasila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945. Soekarno mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya:

“Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.”

Implementasi Pancasila dimaksudkan untuk mencapai tujuan nasional, memajukan kesejahteraan umum yaitu dengan memenuhi kebutuhan hidup berbangsa bernegara, dimulai dari: diri pribadi-keluarga-komunitas; membentuk pemerintahan desa-kabupaten-propinsi-negara kesatuan republik Indonesia, NKRI yang terpandang di dunia.

Gagasan ekonomi pancasila banyak mendapat kritikan dan diragukan. Ekonomi Pancasila gagasan Mubyarto dirasa tidak ideal dan tidak dapat diterapkan secara realistis. Maka berikut adalah kutipan dari tulisan Mubyarto2 dalam bukunya Ekonomi Pancasila: Gagasan & Kemungkinan:

“Syarat-syarat  sistem Ekonomi Pancasila yang kelihatan begitu hipotesis, begitu ideal. Itulah hasilnya kalau kita berpikir ideal. Maka pemikiran saya dianggap mimpi. Ini di Indonesia tidak jalan. Tetapi lalu saya menemukan suatu nyanyian dari Brasilia:
When we dream alone
It is just a dream
When we dream together
It is the dawn of reality
Kalau tidak diimpikan, semuanya itu tidak ada.”

Pembangunan ekonomi itu seharusnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tetapi karena sumber daya manusia didalam suatu Negara berkembang belum siap maka badan legislative pemerintah yang mewakili rakyat dan badan eksekutif pemerintah yang bertugas untuk mencapai tujuan bangsa yaitu: mencapai kesejahteraan umum.

Tantangan Pembangunan Bangsa

Untuk mencapai tujuan nasional yaitu mewujudkan rakyat merdeka berdaulat, melindungi warga negara Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut menjaga ketertiban dunia, agar tidak menjadi hambatan sebaiknya pemerintah  mengatasi masalah masalah yang dihadapi negara Indonesia. 3 inti masalah yang umumnya dihadapi oleh negara negara berkembang (terutama di Indonesia) yaitu Pengangguran, Kemiskinan, dan Kesenjangan Pertumbuhan. Banyak cara mengatasi kemiskinan, selain dengan menambah pembangunan infrastruktur  (Penyediaan barang dan jasa konsumsi publik (public consumption) , transfer langsung dan subsidi juga dapat menjadi efektif namun harus dirancang dengan cermat atau dengan kebijakan yang baik dalam distribusi pendapatan karena kemiskinan terjadi karena tidak terdistribusinya kekayaan secara baik. Untuk mengatasi pendistribusi pendapatan kebijakan yang dilaksanakan antara lain yaitu dengan menetapkan pajak progresif yang bertujuan untuk mengurangi distribusi ukuran golongan atas melalui pajak pendapatan dan kekayaan yang progresif. Tidak meratanya kepemilikan aset/kekayaan (asset ownership) merupakan penyebab nomor satu timpangnya distribusi pendapatan perkapita di hampir semua negara berkembang. Bentuk klasik kebijakan redistribusi (redistribution policies) adalah land reform atau reformasi hak pertanahan. Perlu juga dikembangkan kebijakan 1perdistribusi yang dinamis. Yang disebut sebagai redistribusi dari pertumbuhan (redistribution from growth). Dengan asumsi pembangunan adalah full employment (kesempatan kerja atau partisipasi termanfaatkan secara penuh), equal productivity (setiap orang memiliki kemampuan yang sama), rational efficient (masing-masing pelaku bertindak nalar), sehingga produksi naik  konsumsi naik pendapatan naik.
Ketika produksi meningkat, pendapatan dan pengeluaran juga meningkat dengan asumsi cateris paribus.
ProsesKerja (produktivitas meningkat)Untung/LabaDitabungPengembangan usaha

Setiap peningkatan produksi, dan pendapatan meningkat, sisa dari pendapatan disisihkan untuk konsumsi, produksi, dan berbagi (zakat)

Wawasan Kebangsaan

Jiwa nasionalis berperan sangat penting dalam membangun bangsa. Sumber daya manusia yang berkualitas baik secara jasmani maupun rohani (spiritual) adalah kunci utama keberhasilan pembangunan oleh karena itu setiap manusia yang berjiwa nasionalis, memegang prinsip teguh pancasila sangat dibutuhkan untuk membangun bangsa.

Mohammad Hatta  menegaskan pula:
“…Supaya tercapai suatu masyarakat yang berdasar Keadilan dan Kebenaran, haruslah rakyat insaf akan haknya dan harga dirinya. Kemudian haruslah ia berhak menentukan nasibnya sendiri dan perihal bagaimana ia mesti hidup dan bergaul. Pendeknya, cara mengatur pemerintahan negeri, cara menyusun perekonomian negeri semuanya harus diputuskan oleh rakyat dengan mufakat…” 3

Masalah mendasar yaitu bagaimana membangun karakter bangsa yang bertujuan satu walaupun dengan bahasa beragam, suku berbeda, dan pluralistik. Bagaimana berbhineka tunggal ika? Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Ekonomi pancasila adalah ekonomi yang bersifat mandiri atau self-reliance. Ekonomi dibangun dari rakyat untuk rakyat. Pancasila memiliki kandungan semangat gotong royong, kebersamaan, setia kawan dan kasih sayang. Perekonomian Indonesia dengan basis pilar kebangsaan, pemberdayaan masyarakat, gerakan nasional bersama membangun bangsa, bangunlah manusia nya, karena setiap individu merupakan langkah awal untuk membangun universal.

Kesimpulan

Perekonomian Indonesia berbasis 4 pilar wawasan kebangsaan nusantara itu berarti membangun manusia nya agar bisa menjalankan mekanisme pasar. Pembangunan ekonomi itu seharusnya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tetapi karena sumber daya manusia didalam suatu Negara berkembang belum siap maka badan legislative pemerintah yang mewakili rakyat dan badan eksekutif pemerintah yang bertugas untuk mencapai tujuan bangsa yaitu: mencapai kesejahteraan umum. Tetapi pada kenyataanya tidak semudah itu untuk mencapai kesejahteraan umum, banyak masalah yang harus dihadapi oleh pemerintah, antara lain masalah pengangguran, kemiskinan, kesenjangan, dan market failure. Tidak semua masyarakat bisa berproduksi, distribusi dan konsumsi. Tidak semua produksi menjadi pendapatan dan tidak semua pendapatan menjadi pengeluaran (market failure). Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan intervensi pemerintah yang tegas dalam menghadapi masalah ini yaitu dengan menetapkan kebijakan kebijakan ekonomi, terutama kebijakan fiscal agar setiap development dapat menghasilkan growth. Lalu, untuk membantu pembangunan ekonomi, rakyat dapat membantu dengan menumbuhkan rasa nasionalis nya, misalnya: lebih memilih berinvestasi di negaranya sendiri daripada di luar negeri.

Referensi
1. http://www.state.gov
2. Kuncoro, Mudrajad, (2001): “Sistem Ekonomi Pancasila: Antara Mitos dan Realitas” Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia
3. Mubyarto dan Boediono (penyunting), 1981, Ekonomi Pancasila, BPFE, Yogyakarta
4. Sri-Edi Swasono, (2003): Kemandirian, Dasar Martabat Bangsa. http://www.ekonomirakyat.org
5. Todaro, Michael dan Smith, Stephen, (2003), Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga Edisi 8. Jakarta, Erlangga

Selamat anda mendapatkan

Try not to become a man of success but a man of value…

-Albert Einstein-

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: