Pahlawan Nasional: Laksamana Muda John Lie

Sehari sebelum peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November, Presiden SBY menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh nasional. Beberapa orang diantaranya juga mendapatkan bintang penghargaan. Salah satu tokoh yang menarik perhatian adalah Purnawirawan TNI AL yang sudah almarhum, Daniel Yahya Dharma atau John Lie Tjeng Tjoan.

Selama lebih dari lima puluh tahun diadakannya pemberian gelar Pahlawan Nasional, tokoh etnis Tionghoa belum pernah diberikan penghargaan. Maka tahun ini John Lie menjadi orang Tionghoa pertama yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional di Indonesia.

Mayor John Lie Tjeng Tjoan lahir di Menado 19 Maret 1911 dari Ayah bernama Lie Kae Tae dan Ibu bernama Maryam Oei Tjeng Nie (keduanya penganut Buddha). Semasa muda John Lie bekerja sebagai seorang mualim di sebuah perusahaan kapal Belanda, yang pada waktu itu disebut KPM (sekarang PELNI). Walau bekerja di perusahaan Belanda, John Lie tidak pernah berkeinginan untuk menjadi tentara Belanda. Begitu mendengar adanya revolusi kemerdekaan Indonesia, dia pun memutuskan untuk bergabung dengan Angkatan Laut Indonesia.

Semula John Lie ditugaskan di Cilacap dengan pangkat kapten. Selama beberapa bulan ia berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, membersihkan ranjau-ranjau yang ditanam oleh Jepang. Atas jasanya, pangkatnya pun dinaikkan menjadi Mayor. Ia lalu ditugaskan untuk mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia, untuk diperdagangkan di luar negeri dalam rangka mengisi kas negara yang saat itu masih tipis.

Mayor John Lie pun berjuang menembus blokade Belanda di perairan Indonesia, menuju perairan Selat Malaka dan Thailand, membawa hasil bumi Indonesia dari Sumatra untuk ditukarkan dengan uang dan senjata. Uang dan senjata itu lalu dia serahkan pada gerilyawan Tentara Nasional Indonesia. Aksi heroik ini dia lakukan paling tidak lima belas kali, bolak-balik Indonesia ke sekitar perairan Malaka.

Perjuangan John Lie dan para awaknya tidaklah ringan, karena selain menghindari pasukan patroli Belanda, mereka juga harus menghadang gelombang samudera yang relatif besar untuk ukuran kapal yang mereka gunakan. Dengan kapal kecil bernama The Outlaw, John Lie dan kawan-kawannya mempertaruhkan nyawa di tengah laut.

John Lie pernah tertangkap oleh perwira Inggris saat membawa 18 drum minyak kelapa sawit. Di pengadilan Singapura ia dibebaskan karena tidak terbukti melanggar hukum. Ia juga pernah mengalami peristiwa menegangkan saat membawa pulang senjata semi-otomatis dari Johor ke Sumatera. Ia dihadang oleh pesawat terbang patroli Belanda, namun ia dapat lolos dari insiden ini dengan selamat.

Berita tentang keberhasilan kapal pimpinan John Lie di Selat Belanda menggemparkan dunia lewat siaran Radio BBC dan All Indian. Keberhasilan ini menjadi argumen kuat untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Republik Indonesia eksis dan berdaulat, menggugurkan provokasi Belanda yang menuduh bahwa mereka hanyalah ‘sekumpulan gerombolan dan kaum ekstrimis’.

John Lie kemudian ditugaskan mendirikan naval base di Port Swettenham (Malaya) yang menyuplai bahan bakar, makanan, senjata, dan keperluan lainnya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal tahun 1950, ia ditugaskan oleh KSAL Subiyakto untuk menjadi komandan kapal perang Rajawali. Ia pun kemudian aktif dalam penumpasan RMS dan PPRI/Permesta.

Berkat jiwa kemanusiaannya yang besar, ketika dalam perang menumpas RMS sekalipun, John Lie menolak untuk menyerang pemberontak di hari minggu karena tahu itu adalah hari umat Kristen beribadah.

John Lie menikah di usia 45 tahun dengan Margaretha Dharma Angkauw tahun 1956, pernikahan ini tidak dikaruniai anak. John Lie tetap mengabdi di Angkatan Laut, hingga terakhir berpangkat Laksamana Muda tahun 1966.

John Lie meninggal pada 27 Agustus 1988. Presiden Soeharto yang saat itu sedang berada di Makassar sempat meminta agar jenazahnya tidak dimakamkan dahulu karena ingin memberikan penghormatan terakhir kalinya kepada John Lie. John Lie kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, beliau dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995. Sebelumnya beliau juga pernah mendapat Tanda Jasa Pahlawan dari Presiden Soekarno tahun 1961.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: